karena berbagi tak pernah rugi

Senin, 23 Februari 2015

Makalah Makna dan Posisi serta Urgensi Bimbingan dan Konseling dalam Praktek Pendidikan

MAKALAH

MAKNA DAN POSISI SERTA URGENSI  BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dalam Mata Kuliah Bimbingan dan Koseling ( KD302)
Dosen pengampu:  
1.    Dr. Nani M. Sugandhi, M.Pd.
2.    Hendri Rismayadi, S.Pd.






Disusun oleh:

                                                    Dessy Meylinda              (1200361)
                                                    Jeffa Lianto V. B.           (1204833)
                                                    Ngadiyono                      (1204829)
                                                  Yuyun Desfrita Azura    (1206652)





DEPARTEMEN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015





KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ungkapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Bimbingan dan Konseling (KD302).
Makalah ini berjudul Makna dan Posisi serta Urgensi Bimbingan dan Konseling dalam Praktek Pendidikan. Dengan tujuan, agar mengetahui makna dan posisi serta urgensi Bimbingan dan Konseling dalam praktek pendidikan.
Penulis berharap makalah ini dapat menjadi jalan manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi para pembaca yang ingin mengetahui tentang makna dan posisi Bimbingan dan Konseling dalam pendidikan pada umumnya.
Ada pepatah mengatakan Tiada gading yang tak retak”, mungkin makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Bandung, 24 Februari 2015


Penulis











DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah .......................................................................................2
1.3  Tujuan Penulisan..........................................................................................2
BAB II KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI MATERI DIMENSI TIGA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA
2.1  Pengertian Bimbingan dan Konseling..........................................................3
2.2  Kondisi Bimbingan dan Konseling Di Sekolah............................................5
2.3  Landasan Psikologis Bimbingan dan Konseling………..............................7
2.4  Landasan Sosiologis (Sosial-Budaya) Bimbingan dan Konseling …….....19
2.5  Landasan Pedagogis Bimbingan dan Konseling…………………………..24
2.6  Landasan Agama Bimbingan dan Konseling……………………………...26
2.7  Landasan Perkembangan IPTEK Bimbingan dan Konseling……………..30
2.8  Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling………………………..32
2.9  Perkembangan Bimbingan dan Konseling Di Indonesia………………….34
BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan..................................................................................................38
3.2  Saran ........................ ..................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN 




1.1    Latar Belakang
Dewasa ini terjadi berbagai fenomena peserta didik seperti tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan psikotropika, perilaku seksual menyimpang, kemerosotan moral, kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran, dan lain sebagainya. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat cepat juga menimbulkan sisi negatif dalam hal kehidupan sosial, budaya, dan lain sebagainya yang berpengaruh dalam lingkungan peserta didik.    Hal inilah yang mengakibatkan layanan bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan, selain karena banyaknya masalah peserta didik tersebut, besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling, serta perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen juga menjadi alasan dibutuhkannya layanan bimbingan dan konseling.
Dalam praktek pendidikan, pada awalnya bimbingan dan konseling hanya dipandang sebagai layanan untuk mengatasi peserta didik yang bermasalah saja, seperti masalah pribadi, masalah yang menyangkut pembelajaran, masalah pendidikan, dan sebagainya. Namun pada dasarnya layanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangannya. Dengan demikian layanan bimbingan dan konseling tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah saja melainkan untuk seluruh peserta didik.
Dalam makalah ini akan dibahas secara lebih jelas tentang makna dan posisi serta urgensi bimbingan dan konseling dalam pendidikan. Dalam hal ini akan lebih mengerucut pada bahasan mengenai pengertian bimbingan dan konseling itu sendiri, kondisi bimbingan dan konseling di sekolah, dan landasan-landasan dalam bimbingan dan konseling serta sejarah perkembangan bimbingan dan konseling.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1    Pengertian Bimbingan dan Konseling
            Bimbingan berasal dari kata to guide kemudian menjadi guidance yang mempunyai arti menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu. Yang mana bimbingan di sini diberikan kepada orang atau sekelompok orang yang mengalami maladjusmen, yaitu kegoncangan pribadi, konflik batin, salah aturan, stress dan lain-lain.
Years’s Book of Education 1995 menyatakan bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemamfaatan social.
Stoops dan Walquist menyatakan bimbingan adalah proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.
Arthur J. Jones yang dikutip DR. Tohari Musnamar (1985: 4) menyatakan bimbingan sebagai pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam hal membuat pilihan-pilihan, penyesuaian diri dan pemecahan problem-problem yang bertujuan membantu orang tersebut untuk tumbuh dalam hal kemandirian dan kemampuan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri.
Djumhur dan Moh. Surya(1975: 15) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.
Lebih lanjut untuk memudahkan ingatan kita tentang pengertian umum bimbingan, Prayitno (2004) (Sukardi, 2008: 2) mengemukakan akronim sebagai unsur-unsur pokok dalam sebuah proses bimbingan, yaitu:
            B   =   bantuan
            I    =   individu
            M  =   mandiri
            B   =   bahan
            I    =   interaksi
            N   =  nasihat
            G   =  gagasan
            A   =  alat dan asuhan
            N   =  norma
Dengan memasukkan semua unsur di atas dapat dikatakan bahwa bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu atau kelompok agar mereka dapat mandiri melalui berbagai bahan, interaksi, nasihat, gagasan, alat, dan asuhan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.
Sedangkan konseling diambil dari bahasa Inggris counseling dulu diterjemahkan dengan penyuluhan (bersifat umum), sekarang diartikan konseling itu sendiri (bersifat spesifik mengenai kejiwaan). Pelayanan konseling merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan (counseling is the heart of guidance program). Konseling adalah bantuan pertolongan, tuntunan yang di berikan kepada seseorang untuk mengatasi kesulitan atau masalah secara langsung berhadapan muka atau face to face relation untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Rogers (1942) menyatakan konseling adalah serangkai hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004: 105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Sejalan dengan itu, Winkel (2005:34) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
Untuk memudahkan ingatan kita tentang pengertian umum konseling maka Prayitno (2004) (Sukardi, 2008: 5) mengemukakan akronim dari unsur-unsur pokok yang ada dalam usaha konseling, yaitu;
            K  =   kontak
            O  =   orang
            N  =   menangani
            S  =   masalah
            E  =   expert (ahli)
            L  =   laras
            I   =   integrasi
            N  =  norma
            G  =   guna
            Dengan demikian, pengertian konseling adalah kontak antara dua orang (yaitu konselor dan konseli) untuk menangani masalah konseli, dalam suasana keahlian yang laras dan terintegrasi, berdasarkan norma-norma yang berlaku, untuk tujuan-tujuan yang berguna bagi konseli.

2.2    Kondisi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Berbicara tentang pendidikan nasional atau sekolah di negara ini, yang sering menjadi sorotan adalah masalah nilai atau kemampuan kognitif  peserta didik, bangunan sekolah, dan kesejahteraan guru. Jarang sekali isu kepribadian peserta didik yang dijadikan sorotan, apalagi peran guru Bimbingan dan Konseling atau konselor sekolah dalam pembentukan pribadi peserta didik.
Bimbingan Konseling (BK) seolah menjadi topik yang tidak menarik untuk dibicarakan. Padahal, jika kita merujuk ke negara yang pendidikannya maju, seperti Amerika Serikat, Singapura, bahkan Malaysia, peran guru BK sangat diperhatikan. Sedangkan di Indonesia isu tentang BK menjadi isu yang belum terlalu menjadi sorotan, kalaupun ada, namun bukanlah menjadi sorotan nasional tetapi hanya sekedar sorotan lingkup daerah saja. Gerakan yang terlihat malah dari daerah, bahkan dari sekolah-sekolah. Isu BK seperti ini mengakibatkan sekolah-sekolah tidak memiliki paradigma yang tunggal terhadap BK.
Ada beberapa paradigma yang berkaitan dengan BK di sekolah:
1.    Sekolah yang sadar betul pentingnya BK untuk membangun karakter peserta didik. Kesadaran ini mendorong sekolah ini menata sistem penyelenggaraan BK menjadi salah satu elemen penting sekolah. Untuk membangun sistem tersebut mereka melakukan studi banding, membangun fasilitas BK, memberikan waktu masuk kelas untuk guru BK, melibatkan tenaga BK dalam seluruh proses perkembangan peserta didik, menempatkan BK sebagai rekan guru bukan hanya sebagai pelengkap, mengirim guru-guru BK mengikuti seminar.
2.    Sekolah yang sadar akan kedudukan BK dalam pembentukan pribadi peserta didik, tetapi tidak didukung oleh materi, tenaga dan yayasan atau pemerintah. Keberadaan BK di sekolah ini antara ada dan tiada, hidup segan mati tak mau. Di sekolah kategori ini semua konsep BK hanya tinggal dalam angan-angan. Untuk membangun manajemen BK di sekolah ini butuh tenaga ekstra. Pendekatan yang dilakukanpun harus bervariasi. Ada pendekatan pragmatis, ada pendekatan struktural.
3.    Sekolah yang masih menerapkan manajemen BK “jadul”. Guru BK masih dianggap sebagai polisi sekolah, hanya menangani orang yang bermasalah. Sekolah ini cenderung tidak terbuka terhadap perkembangan ilmu BK dan tidak melihat fungsi BK dalam pembentukan pribadi siswa. Guru BK masih ditempatkan sebagai pelengkap dalam proses pendidikan anak, bukan sebagai rekan tenaga pengajar. Bahkan ironisnya, yang menjadi guru BK bukan lulusan Bimbingan dan Konseling.
4.    Sekolah yang belum memiliki manajemen BK. Penyebabnya bisa karena belum ada tenaga, atau tidak ada yang tahu sehingga tidak ada yang memulai, atau bisa juga karena masalah finansial, atau menganggap tidak perlu.

2.3    Landasan Psikologis Bimbingan dan Konseling
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang: (1) motif dan motivasi; (2) konflik dan frustasi; (3) sikap; pembawaan dan lingkungan, (3) perkembangan individu; (4 belajar; dan (5) kepribadian.
1.     Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti: rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan.
J.P. Chaplin (Yusuf, 2009: 158) mengemukakan bahwa motif merupakan kekuatan dalam diri individu yang mampu melahirkan, memelihara dan mengarahkan perilaku terhadap suatu tujuan.
Abin Syamsudin Makmun mengartikan motif sebagai suatu keadaan yang kompleks (a complex state) dalam diri individu untuk bergerak (to move) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.
2.     Konflik dan Frustasi
            Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali individu menghadapi beberapa macam motif yang saling bertentangan satu sama lain. Dengan demikian individu tersebut berada dalam keadaan konflik psikis, yaitu suatu pertentangan batin, suatu kebimbangan, suatu keragu-raguan untuk memutuskan motif mana yang akan diambil. Motif-motif yang dihadapi individu itu kadang positif, kadang negatif atau kadang campuran keduanya. Oleh karena itu konflik yang dialami oleh individu menurut Syamsu Yusuf (2009: 165) dibedakan menjadi tiga jenis yaitu;
1.      konflik mendekat-mendekat, yaitu kondisi psikis yang dialami individu yang disebabkan dua motif positif yang sama kuat. Motif positif ini maksudnya adalah motif yang disenangi atau diinginkan oleh individu tersebut.
2.      Konflik menjauh-menjauh, yaitu kondisi psikis yang dialami individu yang disebabkan dua motif negatif yang sama kuat. Motif negatif adalah motif yang tidak disenangi oleh individu.
3.      Konflik mendekat-menjauh, yaitu kondisi psikis yang dialami individu yang disebabkan oleh motif positif dan negative yang sama kuat.
Di samping ketiga jenis konflik di atas, juga terdapat konflik ganda (double approach-avoidance conflict). Yaitu konflik psikis yang dialami individu dalam menghadapi dua situasi atau lebih yang masing-masing mengandung motif positif dan negative sekaligus dan sama kuat.
Menurut Syamsu Yusuf (2009: 166) frustasi dapat diartikan sebagai kekecewaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan. Pengertian lain dari frustasi adalah perasaan kecewa yang mendalam karena tujuan yang dikehendaki tidak kunjung terlaksana.
Sarlito Wirawan Sarwono (Yusuf, 2009: 166) mengelompokkan frustasi berdasarkan sumbernya ke dalam tiga golongan yaitu;
1.    Frustasi lingkungan, disebabkan oleh rintangan yang berasal dari lingkungan.
2.    Frustasi pribadi, timbul karena ketidakmampuan individu untuk mencapai tujuan.
3.    Frustasi konflik, disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri individu.
Reaksi individu terhadap frustasi yang dialaminya berbeda-beda. Perbedaan reaksi tersebut dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukannya. Ada yang menghadapi dengan rasional, tetapi ada juga yang reaksinya terlalu emosional. Adapun wujud dari cara-cara individu dalam bereaksi terhadap frustasi yang dialaminya, diantaranya adalah sebagai berikut;
1.    Agresi marah
2.    Bertindak secara eksplosif
3.    Dengan cara introversi
4.    Perasaan tak berdaya
5.    Kemunduran
6.    Fiksasi
7.    Penekanan
8.    Rasionalisasi
9.    Proyeksi
10.    Kompensasi
11.    Sublimasi

3.  Sikap
Thurstone (Yusuf, 2009: 169) berpendapat bahwa sikap merupakan suatu tingkatan afeksi, baik bersifat positif maupunnegatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis, seperti: simbul, prase, slogan, orang, lembaga, cita-cita dan gagasan.
Sarlito Wirawan Sarwono (Yusuf, 2009: 169) mengemukakan, bahwa “sikap adalah kesiapan seseorang bertindak terhadap hal-hal tertentu”.
Unsur-unsur sikap menurut Syamsu Yusuf(2009: 170) meliputi;
1.      Unsur kognisi
2.      Unsur afeksi
3.      Unsur kecenderungan bertindak

Sedangkan ciri-ciri sikap menurut Sarlito (Yusuf, 2009: 170) meliputi;
a.       Dalam sikap selalu terdapat hubungan antara subjek-objek
b.      Tidak ada sikap yang tanpa objek
c.       Objek sikap dapat berupa benda, orang, nilai-nilai, pandangan hidup, agama, hokum, lembaga masyarakat, dan sebagainya.
Menurut Sartain, dkk. (Yusif, 2009: 171) terdapat empat faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap, yaitu sebagai berikut;
1.      Faktor pengalaman khusus
2.      Faktor komunikasi dengan orang lain
3.      Faktor model
4.      Faktor lembaga-lembaga sosial
4.    Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan.
5.    Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier; (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8) Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
Menurut Syamsu Yusuf (2009: 172) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu meliputi;
a.       Hereditas atau keturunan
b.      Lingkungan
c.       Kelompok teman sebaya
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan.
6.    Masalah Penyesuaian Diri Dan Kesehatan Mental
Kegiatan atau tingkah laku individu pada hakikatnya merupakan cara pemenuhan kebutuhan. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk memenuhi kebutuhannya baik cara-cara yang wajar maupun yang tidak wajar,dan sebagainya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan, individu harus dapat menyesuaikan antar kebutuhan yang ada dalam lingkungannya, proses ini disebut sebagai proses penyesuaian diri.
Proses penyesuaian diri menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri sendiri. Jika individu berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya, hal itu disebut”well adjusted” atau penyesuaian dengan baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri tersebut disebut “maladjusted” atau salah suai.
a.       Penyesuaian Normal
Schneiders menjelaskan cirri-ciri orang yang well adjusted atau penyesuaian dengan baik adalah orang yang mampu merespon (kebutuhan dan masalah) secara matang, efisien, puas dan sehat. Yang dimaksud dengan efisien adalah hasil yang dicapai tidak banyak membuang enerji, waktu dan kekeliruan.
b.      Penyesuaian Menyimpang
Penyesuaian diri yang menyimpang atau tidak normal merupakan proses pemenuhan kebutuhan dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Penyesuaian menyimpang ini bisa dikatakan ssebagai tingkah laku abnormal, terutama terkait dengan kriteria sosiopsikologis dan agama.
Penyesuaian yang menyimpang ditandai dengan respon-respon berikut:
1)      Reaksi bertahan
Organisme atau individu dikepung oleh tuntutan-tuntutan dari dalam diri sendiri dan dari luar yang terkadang mengancam rasa aman egonya. Untuk melindungi rasa aman egonya, individu mereaksi dengan mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri ini muncul dilatarbelakangi oleh dasar-dasar psikologis, seperti inferiority (perasaan rendah diri), inadequacy (perasaan tidak mampu), failure (perasaan gagal), dan guilt (perasaan bersalah).
2)      Reaksi menyerang
Reaksi menyerang atau agresi dapat diartikan sebagai sebuah bentuk respon untuk mereduksi ketegangan, dan frustasi melalui media tingkah laku yang merusak, berkuasa, atau mendominasi.
Agresi ini terefleksi dalam tingkah laku verbal dan nonverbal. Contoh yang verbal: berkata kasar, bertengkar, panggilan nama yang jelek, jawaban yang kasar, perkataan yang menyakitkan hati dan kritikkan tajam. Contoh yang nonverbal yaitu menolak atau melanggar aturan, memberontak, berkelahi, mendominasi orang lain dan membunuh.
3)      Reaksi melarikan diri dari kenyataan
Reaksi “escape” dan “withdrawal” merupakan perlawanan pertahanan diri individu terhadap tuntutan, desakan, atau ancaman dari lingkungan dimana ia hidup.
Escape merefleksikan perasaan jenuh, atau putus asa. Sementara withdrawal mengindifikasikan kecemasan, atau ketakutan. Bentuk-bentuk reaksi escape dan withdrawal ini diantaranya: berfantasi, melamun, banyak tidur, meminum minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkotika, shabu-shabu atau ekstasi dan tegresi.
4)      Reaksi penyesuaian yang patologis
Penyesuaian yang patologis ini berarti bahwa individu yang mengalaminya perlu mendapat perawatan khusus, dan bersifat klinis, bahkan perlu perawatan di rumah sakit. Penyesuaian yang patologis adalah neurosis dan psikosis.
Jika individu gagal dalam penyesuaian diri, maka ia akan sampai pada suatu situasi salah suai. Gejala-gejala salah suai ini akan dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku yang kurang wajar atau kelainan tingkah laku.
7.    Masalah Belajar
Dalam seluruh proses pendidikan, belajar merupakan kegiatan inti. Pendidikan sendiri itu dapat diartikan sebagai bantuan perkembangan melalui kegiatan belajar. Secara psiklogis belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh perubahan tingkah laku (baik dalam kognitif, afektif, maupun psikomotor).
Dalam kegiatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun pengajar. Bagi siswa sendiri, masalah-masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, mempergunakan buku-buku pelajaran, memilih mata pelajaran yang cocok dan sebagainya.
a.       Faktor Internal
Ada beberapa faktor yang harus dipenuhinya agar belajarnya berhasil. Syarat-syarat itu meliputi fisik dan psikis.Yang termasuk faktor fisik, diantaranya: nutrisi, kesehatan dan keberfungsian fisik. Kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dan kurang bias konsentrasi. Penyakit juga dapat mempengaruhi keberhasilan belajar, apabila penyakit itu bersifat kronis atau terus menerus dan mengganggu kenyamanan.
b.      Faktor Eksternal 
Faktor ini meliputi aspek-aspek sosial dan nasional. Yang dimaksud faktor sosial adalah faktor manusia, baik yang hadir secara langsung maupun kehadirannya secara tidak langsung, seperti: berupa foto, TV, dan tape recorder. Sedangkan yang termasuk faktor nasional adalah keadaan, suhu udara, waktu suasana lingkungan, keadaan tempat, gedung, dan kelengkapan alat-alat belajar.
Layanan bantuan yang seharusnya diberikan kepada para siswa adalah bimbingan belajar. Bimbingan belajar ini meliputi beberapa kegiatan layanan baik yangbersifat preventif maupun kuratif. Layanan yang bersifat preventif diantaranya dengan pemberian layanan informasi sebagai berikut;
a.       Sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
b.      Cara membaca buku yang efektif.
c.       Cara membuat catatan pelajaran.
d.      Cara mengikuti kegiatan belajar.
e.       Cara belajar kelompok.
f.       Teknik menyusun laporan.
Adapun bimbingan belajar yang bersifat kuratif adalah layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki masalah atau kesulitan belajar. Untuk membantu mereka maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
a.       Mengidentifikasi kasus, dengan cara: membandingkan nilai setiap siswa dengan nilai batas lulus kelompok, menerima laporan dari setiap guru atau wali kelas tentang aktivitas belajar setiap siswa yang diduga bermasalah dalam belajar.
b.   Mengidentifikasi letaknya masalah, dengan cara melihat kawasan tujuan belajar mana yang belum tercapai, dan melihat ruang lingkup atau bahan ajar mana yang belum dikuasai.
c.       Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar.
d.        Prognosis, mengambil kesimpulan dan keputusan serta meramalkan kemungkinan penyembuhannya.
e.   Treatment, pemberian layanan bantuan sesuai dengan prognosis yang telah dilakukan.
8.    Kecerdasan Majemuk
Sejalan dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, konsep inteligensi pun mulai dipandang dengan kacamata yang lebih luas.Pada tahun 1980-an seorang psikolog dari Harvard, yaitu Howard Gardner (Yusuf, 2009:226) berpendapat bahwa manusia memiliki spectrum intelektual yang kaya, yang ditujukan dalam suatu gambar kognisi yang jelas. Menurut Gardner, inteligensi harus memiliki standar tertentu, yaitu kemampuan untuk mengatasi masalah dalam kehidupan, kemampuan untuk menggeneralisir Masalah baru untuk diatasi serta kemampuan untuk membuat atau menawarkan pelayanan yang bernilai dalam suatu budaya.
Gardner mengemukakan bahwa semua manusia memiliki delapan dasar inteligensi, yaitu inteligensi linguistik, inteligensi logika matematika, inteligensi visual ruang, inteligensi kinestetika tubuh, inteligensi musikal, inteligensi interpersonal, inteligensi intra personal, dan inteligensi natural. Kedelapan inteligensi ini disebut multiple intelligensi (inteligensi majemuk).
Howard Gardner sebagai pelopor yang memperkenalkan konsep multiple intelligensi ini berpendapat bahwa inteligensi seseorang tidak hanya memiliki kapasitas untuk belajar dan menyelesaikan masalah, tetapi juga memiliki kapasitas menciptakan sesuatu dalam konteks yang kaya serta menciptakan setting yang alamiah.
9.     Kecerdasan Emosional
Pendapat lama menunjukkan bahwa kualitas inteligensi, kecerdasan dalam ukuran intelektual atau tataran kognitif yang tinggi dipandang sebagai factor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar atau meraih kesuksesan dalam hodupnya. Namun baru-baru ini telah berkembang pandangan lain yang mengatakan bahwa factor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan (keberhasilan) hidup seseorang, bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tetapi oleh factor kemantapan emosional, yang oleh ahlinya, yaitu Daniel Goleman disebut Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional).
Kecerdasan emosional ini semakin perlu dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam pengembangannya, mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan yang yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional seseorang.
Dalam hal ini, Daniel Goleman mengemukakan hasil surveinya terhadap para orangtua dan guru, yang hasilnya menunjukkan bahwa ada kecendrungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka menampilkan sifat-sifat (1) lebih kesepian dan pemurung, (2) lebih beringasan dan kurang menghargai sopan santun, (3) lebih gugup dan mudah cemas, (4) lebih impulsive (mengikuti kemauannaluriah/instintif tanpa pertimbangan akal sehat) dan agresif.
Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan memahami diri, mengelola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif, empati dan membina hubungan. Secara rinci unsure-unsur atau indicator kecerdasan emosional ini dapat disimak pada table berikut.
Untuk membantu para siswa atau mahasiswa mengembangkan kecerdasan emosional, maka pemberian layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting. Pelayanan bimbingan ini dilaksanakan secara teamwork, antara konselor, guru bidang studi, dan kepala sekolah atau antar dosen pembimbing akademik, wali mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan pimpinan jurusan (program studi).
10.    Kecerdasan Spiritual
Pada awal peretangahan abad ke-20, IQ (intelligence quotion) menjadi isu besar dikalangan masyarakat. Kecerdasan intelektual atau rasioanal ini merujuk kepada kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah logis dan strategis. Para ahli psikologis mulai menyusun berbagai tes untuk mengukurnya. Melalui tes tersebut, diketahui tingkat kecerdasan seseorang, yang kemudian dikenal dengan IQ.
Pada pertengahan tahun 1990-an, Daniel Goleman mempopulerkan hasil-hasil penelitian para ahli ilmu syaraf dan psikologi, yaitu bahwa kecerdasan emosional (EQ: emotional quotion) dipandang memiliki posisi yang sangat pentingdalam kehidupan seseorang.
Kecerdasan emosional merupakan kesadaran terhadap perasaandiri sendiri dan orang lain, bersikap empati, kasih sayang, motivasi dankemampuan untuk meresponsuasana kegembiraandan kesedihan secara tepat.
Goleman mengemukakan bahwa EQ merupakan prasayarat dasar bagi pengguanan atau berfungsinya IQ secara efektif. Hal ini nampak pada saat bagian otak memfasilitasi fungsi-fungsi perasaan terganggu, maka tidak dpat berpikir secara efektif.
Baru-baru ini, yaitu di akhir abad ke-20 ditemukan “Q” yang ketiga, yaitu SQ, meskipun data ilmiahnya belum begitu mantap. Dengan ditemukannya SQ (Kecerdasan Spiritual) semakin lengkaplah gambaran gambaran kecerdasan manusia secara penuh.
SQ ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk (1) mengenal dan memecahkan masalah-masalah yang terkait dengan makna dan niali, (2) menempatkan berbagai kegiatandan kehidupan dalam konteks yang lebih luas, kaya, dan memberikan makna; dan (3) mengukur atau menilai bahwasalah satu kegiatan atau langkah kehidupan tertentu lebih bermakna dari yang lainnya.
Ketiga kecerdasan itu (IQ, EQ, dan SQ) dipandang sebagai tiga proses psikologis dalam diri seseorang. EQ merupakan proses primer yang didasarkan kepada jaringan syaraf asosiatif dalam otak; IQ merupakan proses sekunder yang didasarkan kepada jaringan syaraf serial dalam otak; dan SQ merupakanproses tersieryang didasarkan kepada sistem syaraf ketigadalam otak, yaitu syaraf synchronous, yang menyatukan data dalam otak secara menyeluruh         .
Spiritual Quotion (SQ) sebagai proses tersier psikologis berfungsi untuk (1) mengintegrasikan dan mentransformasikan bahan-bahan yang berasal daridari proses primer (EQ) dan proses sekunder (IQ), (2) memfasilitasi suatu dialog diantara pikiran dengan perasaan, atau antara jiwa dan raga, dan (3) menempatkan self sebagai pusat keaktifan (kegiatan), penyatuan, dan pemberian makna.
Danah Zohar dan Ian Marshall sebagai penggagas kecerdasan spiritual mengemukakan bahwa SQ tidak memiliki hubungan dengan agama. Meskipun banyak orang dapat mengekspresikan SQ melalui agama, tetapi keberagaman seseorang tidak menjamin tingginya SQ. Bahkan banyak para humanis dan ateis memiliki tingkat SQ yang tinggi; dan sebaliknya banyak para aktivis keagamaan yang SQ-nya rendah.
Agama merupakan seperangkat peraturan dan keyakinan yang dipaksakan dari luar, bersifat top-down, diwariskan dari para nabidan kitab suci, atau ditanamkan melalui keluarga dan tradisi. Sementara SQ bersifat internal, kemampuan bawaan psikis dan otak manusia, bersumber dari hati yang paling dalam. Dengan SQ memungkinkan otak menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan berbagai masalah.
11.    Kreativitas
a. Pengertian
            Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru, atau kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi ciri-ciri kognitif (aptitude), seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), elaborasi (elaboration), dan pemaknaan kembali (redefinition) dalam pemikiran, maupun ciri-ciri non-kognitif (non-aptitude), seperti motivasi, sikap, rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
            Ciri-ciri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;
1)      Kelancaran adalah kemampuan manghasilka banyak gagasan
2)      Keluwesan adalah emampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.
3)      Keaslian adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise.
4)      Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci
5)      Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh orang banyak.
12.    Stres Dan Pengelolaannya
a.        Teori Stres
Stres meruapakan fenomena psikofisik. Stres dialami oleh setiap orang, dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status sosial ekonomi. Stress bias dialami oleh seorang bayi, anak-anak, remaja atau dewasa, dialami oleh pejabat, atau warga masyrakat biasa, dialami oleh pengusaha atau karyawan, dialami oleh guru maupun siswa, dan dialami oleh pria maupun wanita.
Stress dapat berpengaruh positif maupun negatif terhadap individu. Pengaruh positif, yaitu mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negative, yaitu menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah, atau depresi, dan memicu berjangkitnya sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
Pengaruh negatif dari stress itu, dapat disimak dari contoh kasus di atas. Kasus tersebut menunjukkan bahwa sikap penolakan dan pelakuan seorang ibu yang kasar terhadap anak, dapat menyebabkan stress bagi anak tersebut. Stress anak yang berkepanjagan ternyata berpengaruh negatif bagi perkembangan kepribadiannya, yaitu bersifat kurang percaya diri, dan takut melakukan sesuatu.
Teori dasar tentang stress dapat di simpulkan ke dalam tiga variable pokok, yaitu sebagai berikut:
1)        Variabel Stimulus atau engineering approach (pendekatan rekayasa) yang mengkopsepsikan stress sebagai suatu stimulus atau tuntutan yang mengancam (berbahaya), yaitu tekanan dari luar terhadap individu yang dapat menyebabkan sakit (memngganggu kesehatan).
2)        Variabel Respon atau physiological approach (pendekatan psikologis) yang didasarkan pada model triphase dari Hans Selye. Dia mengembangkan konsep yang lebih spesifik tentang reaksi manusia terhadap stressor, yang dia namakan GAS (General Adaption Syndrome), yaitu mekanisme respon tipikal tubuhdalam merespon rasa sakit, ancaman atau stressor lainnya.
3)        Variabel Interaktif, yang meliputi dua teori yaitu sebagai berikut: Teori Interaksional yang mempokuskan pembahasannya kepada aspek-aspek keterkaitan antara individu dengan lingkungannya, dan hakekat hubungan antara tuntutan pekerjaan dengan kebebasan mengambil keputusan. Sedangkan Teori Transaksional yang memfokuskan pembahasannya kepada aspek-aspek kognitif dan afektif individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya, serta gaya-gaya “coping” yang dilakukannya.

2.4    Landasan Sosiologis (Sosial-Budaya)  Bimbingan dan Konseling
Arus modernisasi di samping berdampak positif, seperti diperolahnya kemudahan dalam bidang komunikasi dan tranportasi. Di sisi lain ternyata telah melahirkan dampak yang kurang menguntungkan, yaitu dengan menggejalannya berbagai problema yang semakin kompleks, baik yang bersifat personal maupun sosial. Manusia modern telah terpedaya oleh produk pemikirannya sendiri, karena tidak mampu mengontrol dampak sampingannya, seperti rusaknya lingkungan (banjir, longsor, polusi udara, dan air) yang memporak-porandakan kenyamanan hidupnya sendiri.
Kehidupan yang terlalu berorientasi kepada kemajuan dalam bidang material (pemenuh kebutuhan biologis) telah menelantarkan supra empiris manusia, sehingga terjadi pemiskinan rohaniyah dalam dirinya. Kondisi ini ternyata sangat kondusif bagi berkembanganya masalah-masalah pribadi dan sosial yang terekspresikan dalam suasana psikologis yang kurang nyamna, seperti; perasaan cemas, stress, dan perasaan terasing, serta terjadinya penyimpangan moral atau sistem nilai.
Dalam suatu penelitian terhadap masyarakat Barat dikemukakan bahwa akibat sampingan dari gaya modern, seperti di negara-negara industri adalah munculnya berbagai problem sosial dan personal yang cukup kompleks. Problem tersebut seperti: (1) ketegangan fisik dan psikis, (2) kehidupan yang serba rumit, (3) kekhawatiran atau kecemasan akan masa depan, (4) semakin tidak manusiawinya hubungan antar individu, (5) rasa terasing dari anggota keluarga dan anggota lainnya, (6) renggangnya hubungan kekeluargaan, (7) terjadinya penyimpangan moral dan sistem nilai, dan (8) hilangnya identitas diri (menurut Rusdi Muslim, Suara Pembaharuan,9 oktober 1993).
Sekolah tidak dapat melepaskan diri dari situasi kehidupan masyarakat, dan mempunyai tanggung jawab untuk mambantu para siswa atau peserta didik bak sebagai pribadi maupun sebagai calon anggota masyarakat. Sebagai suatu lembaga pendidikan formal, sekolah bertanggung jawab untuk mendidik dan menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan mampu memecahkan berbagi masalah yang dihadapinya. Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu diantara kegiatan yang diberikan oleh sekolah; namun sesungguhnya kegiatan itu saja belum cukup mamadai dalam menyiapkan siswa untuk terjun ke masyarakan dengan berhasil. Oleh karena itu, sekolah hendaknya memecahkan masalah yang dihadapinya. Siswa agar mampu memberikan bantuan secara pribadi kepada siswa agar mampu memcahkan masalah yang dihadapinya. Siswa hendaknya dibantu, agar apa yang mereka terima di sekolah merupakan bakal untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
Di dalam situasi inilah bimbingan dan konseling akan terasa diperlukan sebagai suatu bentuk bantuan kepada siswa. Program bimbingan dan konseling membantu berhasilnya program pendidikan pada umumnya.
Faktor faktor Sosial Budaya yang Menimbulkan Kebutuhan akan Bimbingan
Kebutuhan akan bimbingan timbul karena adanya masalah-masalah yang dihadapi oleh individu yang terlibatd alam kehidupan masyarakat. Semakin rumit strukutur masyarakat dan keadaannya, semakin banyak dan rumit pula masalah yang dihadapi oleh individu yang terdapat dalam masyarakat itu.
Jadi kebutuhan akan bimbingan itu timbul karena terdapat faktor yang menambah rumitnya keadaan masyarakat di mana individu itu hidup. Faktor-faktor itu di antaranya sebagai berikut. (John J. Pietrofesa dkk., 1980; M. Surya & Rochman N., 1986; dan Rochman N., 1987).
a.       Perubahan Konstelasi Keluarga
Ketidakberfungsian keluarga melahirkan dampak negatif bagi kahidupan moralitas anak. Bagi keluarga yang mengalami kondisi disfungsional seperti di atas, seringkali dihadapkan kepada kebutuhan atau kesulitan mencari jalan keluar untuk pemecahan masalah yang dihadapinya, sehingga apabila tidak segara mendapat bantuan dari luar, maka masalah yang dihadapinya akan semakin parah. Salah satu bantuan yang dapat memfasilitasi keluarga memecahkan masalah yang dihadapinya adalah layanan bimbingan atau konseling yang berupaya mambantu untuk memelihara keutuhan atau keharmonisan keluarga.
b.      Perkembangan Pendidikan
Demokrasi dalam bidang kenegaraan menyebabkan demokratisasi dalam bidang kehidupan,termasuk bidang pendidikan. Hal ini berarti pemberian kesempatan kepada setiap orang untuk menikmati pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pun oleh badan swasta. Kesempatan yang terbuka ini menyebabkan berkumpulnya murid-murid dari berbagai kalangan yang berbeda-beda latar belakangnya antara lain:agama, etnis, keadaan soail, adat istiadat, dan ekonomi. Hal semacam ini menimbulkan bertumpuknya masalah yang dihadapi oleh orang yang terlibat dalam kelompok campuran itu. Pemecahan ini dapat diperoleh dengan melaksanakan bimbingan bagi anggota kelompok yang bersangkutan, dalam hal ini kelompok murid sekolah.
c.       Dunia Kerja
Berbagai perubahan dalam dunia kerja menuntut keahlian khusus dari para pekerja. Untuk itu dipersiapkan tenaga-tenaga yang terampil dan memiliki sikap mental yang tangguh dalam bekerja. Bimbingan dan konseling diperlukan untuk membantu menyiapkan mental para pekerja yang tangguh itu.
d.      Perkembangan Kota Metropolitan
Kecenderungan bertumbuhnya kota-kota abad ke-21 akan mendorong semakin meledaknya arus urbanisasi. Kondisi ini akan menimbulkan dampak sosial yang buruk bagi kehidupan masyarakat perkotaan. Kondisi kehidupan yang buruk bagi kehidupan masyarakat di perkotaan. Kondisi kehidupan di atas dapat menjadi sumber pemicu malapetaka kehidupan terutama meyangkut masalah-masalah psikologis seperti gelaja ”maladjustment” dan “Pathologic” (gangguan jiwa dan sakit jiwa). Bimbingan dan konseling dibutuhkan untuk membantu masyarakat mengatasi masalah-masalah psikologis sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
e.       Perkembangan Komunikasi
Dampak media massa (terutama televisi) terhadap kehidupan manusia sangatlah besar. Televisi telah menjadi pusat hiburan keluarga. Dewasa ini anak-anak dan para remajarata-rata menghabiskan waktu setiap harinya 6 jam untuk menonton televisi telah mengembangkan sikap konsumerisme di kalangan masyarakat. Di samping itu program-program yang ditayangkannya tidak sedkit yang merusak nilai-nilai pendidikan, karena banyak adegan kekerasan, mistik dan moral. Dalam hal ini layanan bimbingan yang memfsilitasi berkembangnya kehidupan anak dalam mengambil keputusan (decision-making skill) merupakan pendekatan yang sangat tepat.
f.       Seksisme dan Rasisme
Seksisme merupakan paham yang mengunggulkan salah satu jenis kelamin dari jenis kelamin lainnya. Sementara rasisme merupakan paham yang mengunggulkan ras yang salah satu dari ras lainnya. Di Amerika, seksisme masih merupakan kebiasaan atau fenomena umum dikalangan masyarakat. Fenomena ini seperti terlihat dari sikap orang tua yang masih memegang budaya tradisional dalam pemilihan karir bagi anak wanita, yang membatasi atau tidak memberikan kebebasan kepada anak wanita untuk memilih sendiri karir yang diminatinya.
Rasisme masih menyelimui iklim kehidupan masyarakat di Amerika. Selama tahun 1978-1979 para pemimpin kulit hitam sudah bersikap apatis dalam melawan perlakuan diskriminatif (rasisme) terhadap mereka.
g.      Kesehatan Mental
Masalah kesehatan mental di Amerika Serikat ternyata semakin marak, tidak dapat dihentikan. Data tentang maraknya masalah kesehatan mental ini dilaporkan oleh Coleman yang malakukan survey pada tahun 1974. Dengan adanya masalah tersbut maka sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga perusahaan dituntut untuk menyelenggarakan program layanan bimbingan dan konseling dalam upaya mengembangkan mental yang sehat, dan mencegah serta menyembuhkan mental yang tidak sehat.
h.      Perkembangan Teknologi
Dengan perkembangan teknologi  yang pesat, timbul dua masalah penting yang menyebabkan kerumitan struktur dan keadaan masyarakat, ialah (1) penggantian sebagai besar tenaga kerja dengan alat-alat mekanis-elektronik, dan hal ini mau tidak mau menyebabkan pengangguran, (2) bertambahnya jenis-jenis pekerjaan dan jabatan baru yang menghendaki keahlian khusus dan memerlukan pendidikan khusus pula bagi orang-orang yang hendak menjabatnya.
Kedua masalah utama ini menimbulkan kebutuhan bagi orang-orang yang bersangkutan, terutama murid-murid di sekolah untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai pilihan jabatan dan cara memilih dengan tepat. Hal ini menimbulkan kebutuhan pada mereka untuk meminta bantuan kepada orang lain atau badan yang berwenang untuk memecahkannya. Dan di sinilah kebutuhan akan bimbingan itu terasa sangat dibutuhkan.
i.        Kondisi Moral dan Keagamaan
Kebebasan untuk menganut agama sesuai dengan keyakina masing-masing individu menyebabkan seseoranng individu berpikir dan menilai setiap agama yang dianutnya. Kadang-kadang menilainya berdasarkan nilai-nilai moral umum yang dianggapnya paling baik sehinga kadang dapat menimbulkan keraguan akan kepercayaan yang telah diwarisi dari orang tua mereka.
Pada kenyataannya para kaum muda menilai keyakian terhadap agama itu sering didasarkan pada atas kesenangan pribadi yang nyata dan akan membawa pada perasaan tertekan oleh norma-norma agama atau pun nilai moral yang dianut oleh orangtuanya. Dengan demikian mereka akan dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang tidak mudah untuk ditentukan, karena meyangkut hal yang sangat mendasar dan peka. Makin banyak ragamnya ukuran penilaian, makin besar pula konflik yang diderita oleh individu yang bersangkutan dan makin terasalah kebutuhan akan bimbingan yang baik untu menanggulanginya.
j.        Kondisi sosial Ekonomi
Perbedaan yang besar dalam faktor ekonomi di antara anggota kelompok campuran, menimbulkan masalah yang berat. Masalah ini terutama sangat dirasakan oleh individu yang berasal dari golongan ekonomi lemah, tidak mampu, atau golongan “rendahan.” Di ekonomi lemah, tidak mustahil timbul kecemburuan sosial, perasaan rendah diri, atau perasaan tidak nyaman untuk bergaul dengan anak-anak dari keompok orang-orang kaya. Untuk menanggulangi masalah ini dengan sendirinya memerlukan adanya bimbingan, baik terhadap mereka yang datang dari golongan yang kurang mampu atau pun dari mereka golongan sebaliknya.

2.5    Landasan Pedagogis Bimbingan dan Konseling
Sunaryo kartadinata (2011: 23) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah upaya pedagogis untuk memfasilitasi perkembangan individu dari kondisi apa adanya kepada kondisi bagaimana seharusnya sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh setiap individu, sehingga bimbingan dan konseling adalah sebuah upaya normatif.
Myrick (Kartadinata, 2011: 24) menegaskan bahwa:
1.    Bimbingan meresap ke dalam kurikulum sekolah atau proses pembelajaran yang bertujuan untuk memaksimumkan perkembangan potensi individu. Dalam konteks ini bimbingan merupakan filsafat pendidikan umum atau “state of mind” artinya pendidik mengedepankan martabat dan keunikan individu di dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah, sebagai lingkungan perkembangan, dan pembelajaran yang baik.
2.    Bimbingan menembus konstelasi layanan yang terarah kepada pengambangan pribadi, karir, dan penyesuaian sekolah, yang secara umum dilaksanakan oleh pendidik professional seperti konselor dan/atau dalam hal tertentu melibatkan guru dan personil lainnya.
Dapat dipahami bahwa bimbingan adalah proses membantu individu memahami diri dan dunianya, dan dalam konteks pendidikan bimbingan terfokus kepada pengembangan lingkungan belajar yang memfasilitasi individu memperoleh kesuksesan belajar.
Tohirin (2007: 103) mengatakan bahwa landasan bimbingan dan konseling setidaknya berkaitan dengan: (1) Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, (2) Pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan (3) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.
a.    Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan
Prayitno dan Erman Amti (1999) mengutip pendapat Crow and crow (1990) (Tohirin, 2007: 107) menyatakan bahwa:
Bimbingan menyediakan unsur-unsur di luar pendidikan yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan diri. Dalam arti luas, bimbingan dapat dianggap sebagai bentuk upaya pendidikan. Dalam arti yang sempit bimbingan meliputi berbagai teknik, termasuk di dalamnya konseling yang memungkinkan individu menolon dirinya sendiri.

Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seorang bagi manusia hanya akan dapat menjadi manusia sesuai dengan tuntutan budaya hanya melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialisasiannya dan keberagamaannya.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.


b.    Pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling
Prayitno dan Erman Amti (1999) mengutip pendapat Gistod (1953) (Tohirin, 2007: 108) menegaskan bahwa pada dasarnya bimbingan dan konseling merupakan proses yang memiliki orientasi untuk belajar, yakni belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan menerapkan secara efektif berbagai pemahaman. Lebih jauh, Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling individu akan mempelajari keterampilan dalam pengambilan keputusan. Pemecahan masalah, tingkah laku, tindakan, serta sikap-sikap baru. Dengan belajar itulah individu akan memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya; dengan memperoleh hal-hal baru itulah individu dapat berkembang.
c.    Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling mempunyai dua jenis tujuan yaitu tujuan jangka pendek dan jangka panjang (Tohirin, 2007: 109). Tujuan jangka pendek dari bimbingan dan konseling adalah membantu individu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah sebagai upaya bimbingan terhadap diri sendiri, yakni mampu mengembangkan kemampuan untuk memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.

2.6    Landasan Agama Bimbingan dan Konseling
Landasan agama bimbingan dan konseling pada dasarnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaannya menjadi fokus sentral upaya bimbingan dan konseling (Prayitno dan Erman Amti, 2003: 233). Pembahasan landasan religius ini, terkait dengan upaya mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan konseling.
Terkait dengan kecenderungan berkembangnya konseling yang berbasis spiritual, Stanard et.al. (M. Surya, 2003) mengusulkan agar spiritualitas ini dijadikan sebagai angkatan ke lima dalam konseling dan psikoterapi. Selanjutnya dijelaskan bahwa “spirituality includes consepts such as trancendence,s elf actualization, purpose and meaning, wholeness, balance, sacredness, universality, and a sense of high power.”
Konselor dituntut memiliki pemahaman tentang hakikat manusia menurut agama dan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Sehubungan dengan hal itu maka pada uraian berikut akan dibahas mengenai hakikat manusia menurut agama, peranan agama, dan persyaratan konselor.
1.      Hakikat Manusia Menurut Agama
Menurut sifat hakiki manusia adalah makhluk beragama (homo religius), yaitu makhluk yang mempunyai fitrah untuk memahami dan menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, serta sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai rujukan (referensi) sikap dan perilakunya. Dapat juga dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki motif  beragama, rasa keagamaan, dan kemampuan untuk memahami serta mengamalkan nilai-nilai agama.
Fitrah beragama ini merupakan potensi yang arah perkembangannya amat tergantung pada kehidupan beragama lingkngan dimana orang (anak) itu hidup, terutama lingkungan keluarga. Apabila kondisi tersebut kondusif, dalam arti lingkungan itu memberikan ajaran, bimbingan dengan pemberian dorongan (motivasi) dan ketauladanan yang baik (uswah hasanah) dalam mengamalkan nilai-nilai agama, maka anak itu akan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur (berakhlalaaqul kariimah).
Dengan mengamalkan ajaran agama, berarti manusia telah mewujudkan jati dirinya, identitas dirinya (self-identity) yang hakiki, yaitu sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah berarti manusia menurut fitrahnya adalah makhluk sosial yang bersifat altruis (sikap sosial untuk membantu orang lain).
Sebagai hamba dan khalifah Allah, manusia mempunyai tugas suci, yaitu ibadah atau mengabdi kepada-Nya. Bentuk pengabdian itu baik yang bersifat ritual-personal (seperti shlat, shaum, dan berdoa) maupun ibadah sosial, yaitu menjalin silahturahim (hubungan persaudaraan antar manusia) dan menciptakan lingkungan yang bermanfaat bagi kesejahteraan atau kebahagiaan umat manusia (rahamatan lil’alamin).
2.      Peranan Agama
Agama sebagai pedoman hidup bagi manusia telah memberikan petunjuk (hudan) tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk pembinaan atau pengembangan mental (rohani) yang sehat. Sebagai petunjuk hidup bagi manusia dalam mencapai mentalnya yang sehat, agama berfungsi sebagai berikut.
a.    Memelihara Fitrah
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Namun manusia mempunyai hawa nafsu (naluri atau dorongan untuk memenuhi kebutuhan/keinginan), dan juga ada pihak luar yang senantiasa berusaha menggoda atau menyelewengkan manusia dari kebenaran, yaitu setan, manusia sering terjerumus melakukan perbuatan dosa.
Agar manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya dan terhindar dari godaan setan (sehingga dirinya tetap suci), maka manusia harus beragama, atau bertakwa kepada Allah, yaitu beriman dan beramal shaleh, atau melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya-Nya.
b.    Memelihara Jiwa
Agama sangat menghargai harkat dan martabat, atau kemuliaan manusia. Dalam memelihara kemuliaan jiwa manusia, agama mengharamkan atau melarang manusia melakukan penganiayaan, penyiksaan, atau pembunuhan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
c.    Memelihara Akal
Dengan akalnya inilah, manusia memiliki (a) kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, atau memahami dan menerima nilai-nilai agama, dan (b) mengembangkan ilmu dan teknologi, atau mengembangkan kebudayaan. Melalui kemampuan inilah manusia dapat berkembang manjadi makhluk yang berbudaya.
d.   Memelihara Keturunan
Agama mangajarkan kepada manusia tentang cara memelihara keturunan atau sistem regenerasi yang suci. Aturan atau norma agama untuk memelihara keturunan itu adalah pernikahan. Menurut Zakariah Daradjat (1982) salah satu peranan agama adalah sebagai terapi (penyembuhan) bagi gangguan kejiwaan.
M. Surya (1977) mengemukakan bahwa agama memegang peranan sebagai penentu dalam proses penyesuaian diri. Agama merupakan sumber nilai, kepercayaan dan pola-pola tingkah laku yang akan memberikan tuntunan bagi arti, tujuan dan kestabilan hidup umat manusia.
Berikut akan dikemukakan pendapat para ahli tentang pengaruh agama terhadap kesehatan mental.
1)        A.A. Briel (psikoanalisis) mengatakan bahwa, “individu yang benar-benar religius tidak akan pernah menderita sakit jiwa.”
2)        Arnold Toynbee (sejarahwan Inggris) mengemukakan bahwa krisis yang diderita orang-orang Eropa pada zaman modern ini pada dasarnya terjadi karena kemiskinan rohaniah dan terapi satu-satunya bagi penderita yang sedang mereka alami ialah kembali kepada agama.
3)        Larson  berpendapat bahwa:”... in navigating the complexities of human health and relationship, religious commitment is a force to consider.” (Untuk mengemudikan atau mengendalikan kompleksitas hubungan dan kesehatan  manusia, maka komitmen terhadap agama merupakan suatu kekuatan yang patut diperhatika). (Utsman najati, 1985; Iqbal Setyarso dan M. Solihat, 1996)
Berdasarkan pendapat para ahli dan temuan-temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa agama sangat berperan (berkontribusi secara signifikan) terhadap pencerahan diri dan kesehatan mental individu. Bertitik tolak dari hal ini, maka pengintegrasian atau penerapan nilai-nilai agama dalam layanan bimbingan dan konseling merupakan suatu keniscayaan yang harus ditumbuh kembangkan.
Mengenai kaitan antara keimanan kepada Tuhan dan pengamalan ajaran-Nya dengan kesehatan mental, dalam al-Qur’an banyak ayat yang menunjukkan hal tersebut, yaitu sebagai berikut.
1)        Surat At-Tiin mengisyaratkan bahwa “manusia akan mengalami kehidupan yang hina/jatuh martabatnya termasuk juga kehidupan psikologis yang tidak nyaman (mentalnya tidak sehta) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shlaeh (berbuat kebajikan).”
2)        Senada dengan surat At-Tiin adalah surah Al-‘Ashr, yaitu bahwa “semua manusia itu merugi (celaka hidupnya, tidak tentram, atau perasaan resah dan gelisah) kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan saling mewasiati dengan kebenaran dan kesabaran.”
3)        Surat Ar-Ra’du: 28,”yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berzikir kepada Allah-lah, hati akan menajadi tenteram (bahagia).”

3.      Persyaratan Konselor
Landasan religius dalam bimbingan dan konseling mengimplikasikan bahwa konselor sebagai “helper,” pemberi bantuan dituntut untuk memilih pemahaman akan nilai-nilai agama, dan komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilia-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada klien atau peserta didik. Konselor seyogianya mneyadari bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada klien merupakan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah, karena di dalam proses bantuannya terkandung nilai “amar ma’ruh nahyi munkar” (mengembangkan kabaikan dan mecegah keburukan). Agar layanan bantuan yang diberikan itu bernilai ibadah, maka kegiatan tersebut harus didasarkan kepada keikhlasan dan kesabaran.
Kaitan dengan hal tersebut, Prayitno dan Erman Amti mengemukakakn persyaratan bagi konselor, yaitu sebagai berikut.
a.       Konselor hendaklah orang yang beragama dan mengamalkan dengan baik keimanan dan ketaqwaannya sesuai dengan agama yang dianutnya.
b.       Konselor sedapat-dapatnya mampu mentransfer kaidah-kaidah agama secara garis besar yang relevan dengan masalh klien.
c.       Konselor harus benar-benar memperhatikan dan  menghormati agama klien.

2.7    Landasan Perkembangan IPTEK Bimbingan dan Konseling
Landasan ilmiah dan teknologi membicarakan sifat keilmuan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling sebagai ilmu yang multidimensional yang menerima sumbangan besar dari ilmu-ilmu lain dan bidang teknologi.
Sehingga bimbingan dan konseling diharapkan semakin kokoh. Dan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.yang berkembang pesat. Disamping itu penelitian dalam bimbingan dan konseling sendiri memberikan bahan-bahan yang yang segar dalam perkembangan bimbingan dan konseling yang berkelanjutan.

1.    Keilmuan Bimbingan dan Konseling
            Tohirin (2007: 101) mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan professional yang dilaksanakan atas dasar keilmuan baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangannya. Secara keilmuan, bimbingan dan konseling merupakan pengetahuan yang telah tersusun rapi dan sistematis. Landasan ilmiah bimbingan dan konseling mengisyaratkan bahwa praktik bimbingan dan konseling harus dilaksanakan atas dasar keilmuan. Sehingga setiap orang yang berkecimpung dalam bimbingan dan konseling harus memiliki ilmu bimbingan dan konseling.
Ilmu bimbingan dan konseling adalah berbagai pengetahuan tentang bimbingan dan konseling yang tersusun secara logis dan sistematik. Sebagai layaknya ilmu-ilmu yang lain, ilmu bimbingan dan konseling mempunyai obyek kajiannya sendiri, metode pengalihan pengetahuan yang menjadi ruang lingkupnya, dan sistematika pemaparannya.
Obyek kajian bimbingan dan konseling ialah upaya bantuan yang diberikan kepada individu yang mangacu pada ke-4 fungsi pelayanan yakni fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan dan pemeliharaan atau pengembangan. Dalam menjabarkan tentang bimbingan dan konseling dapat digunakan berbagai cara atau metode, seperti pengamatan, wawancara, analisis dokumen (Riwayat hidup, laporan perkembangan), prosedur teks penelitian, buku teks, dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya mengenai obyek kajian bimbingan dan konseling merupakan wujud dari keilmuan bimbingan dan konseling.
2.    Peran Ilmu Lain dan Teknologi dalam Bimbingan dan Konseling
            Ilmu bimbingan dan konseling bersifat multireferensial, artinya suatu disiplin ilmu dengan rujukan atau referensi dari ilmu-ilmu lain seperti psikologi, ilmu pendidikan, ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu agama, ilmu hukum, filsafat, dan lain-lain.
            Kontribusi ilmu-ilmu lain terhadap bimbingan dan konseling tidak hanya terbatas kepada pembentukan dan pengembangan teori-teori bimbingan dan konseling melainkan juga pada praktik pelayanannya.
            Selain memerlukan dukungan dari ilmu lain, praktik bimbingan dan konseling juga memerlukan dukungan perangkat teknologi. Dukungan perangkat teknologi terhadap praktik bimbingan dan konseling antara lain dalam pembuatan instrument bimbingan dan konseling dan penggunaan berbagai alat atau media untuk memperjelas materi bimbingan dan konseling.
            Bimbingan dan konseling baik pada tataran teori dan praktik bersifat dinamis. Artinya, bimbingan dan konseling berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.    Pengembangan Bimbingan Konseling Melalui Penelitian
Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling boleh jadi dapat dikembangkan melalui proses pemikiran dan perenungan, namun pengembangan yang lebih lengkap dan teruji didalam praktek adalah apabila pemikiran dan perenungan itu memperhatikan pula hasil-hasil penelitian dilapangan. Melalui penelitian suatu teori dan praktek bimbingan dan konseling menemukan pembuktian tentang ketepatan/ keefektifan dilapangan. Layanan bimbingan dan konseling akan semakin berkembangan dan maju jika dilakukan penelitian secara terus menerus terhadap berbagai aspek yang berhubungan dengan Bimbingan dan Konseling.

2.8    Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling
a.   Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling
Gerakan bimbingan lahir pada tanggal 13 Januari 1908 di Amerika, dengan didirikannya suatu vocational bureau tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal sebagai“Father of The Guedance Movement in American Education”. Yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi dengan memilih pekerjaan yang terbaik yang tepat bagi dirinya (wieke octora olivia,2012).
Disinilah pertama kalinya istilah Bimbingan (Vocational Guidance) dikenal, tepatnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di Boston. Dengan didirikannya biro yang bergerak di bidang profesi dan ketenaga kerjaan. Dengan tujuan membantu para pemuda dalam memilih karir yang ia bidangi dan melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah.
Pada masa yang hampir bersamaan, seorang konselor di Detroit Jasse B. Davis mulai memberikan layanan Konseling Pendidikan dan pekerjaan di SMA (1898). Dan pada tahun 1907 ia mencoba memasukkan program Bimbingan (Guidance) ke dalam pengalaman pendidikan para siswa Central High School di Detroit.
Eli Weaver pada tahun 1905 mendirikan sebuah komite yang diketuainya sendiri yaituStudents Aid Committee Of  The High School di New york. Dalam pengembangan komitenya, Weaver sampai pada kesimpulan bahwa siswa butuh saran dan konsultasi sebelum mereka masuk dunia kerja. Pada tahun 1920-an, para konselor sekolah di Boston dan New York diharapkan dapat membantu para siswa dalam memilih sekolah dan pekerjaan. Selama tahun 1920-an itu pula, sertifikasi konselor sekolah mulai diterapkan pada kedua kota tersebut (Bimo Walgito, 2010:15)
Jika dilihat dari perkembangannya, Bimbingan Konseling mula-mulanya hanya dikenal sebatas pada bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance), sebagaimana peran dari Biro yang didirikan Frank Parson di Boston. Namun sebenarnya tidak hanya itu, di sisi lain perkembangan Bimbingan Konseling pun merambah kebidang pendidikan (Education Guidance) yang dirintis oleh Jasse B. Davis. dan sekarang dikenal pula adanya bimbingan dalam segi kepribadian (Personal Guidance).
Pada dasarnya, Bimbingan Konseling tidak hanya berkmbang pada bidang-bidang tersebut, namun berkembang pula pada bidang-bidang lain yang meliputi pegertian dan pratek bimbingan dan Konseling, seperti bimbingan dalam bidang social, kewarganegaraan, keagamaan, dan lain-lain.
b.       Faktor-faktor yang melatar belakangi berkembangnya Bimbingan Konseling
          Upaya layanan bimbingan dan konseling secara profesional lahir di Amerika serikat dan berkembang pesat abad ke-20. Banyak faktor yang mendorong pesatnya perkembangan disiplin ilmu ini, hingga mampu menerobos institusi-institusi pendidikan khususnya sekolah. Sedikitnya, terdapat enam faktor yang mempelopori perkembangan bimbingan dan konseling tersebut, di antaranya yaitu:
1.      Perhatian pemerintah terhadap penduduk imigran yang datang ke Amerika Serikat dari kawasan Eropa, mereka membutuhkan pekerjaan yang layak, dari situlah kemudian mendapat layanan dari biro-biro vokasional pemerintah, yang melalui penyuluhan-penyuluhan untuk mengarahkan bakat dan minat mereka agar pekerjaan yang di dapat sesuai dengan potensi mereka.
2.      Pandangan Kristen yang beranggapan bahwa dunia adalah tempat pertempuran antara kekuatan baik dan buruk, atas dasar ini maka berbagai lembaga pendidikan di wajibkan mengajarkan moral kebaikan agar anak didiknya kelak menjadi pemenang dalam melawan kejahatan atau keburukan tersebut.
3.      Pengaruh dari disiplin ilmu kesehatan mental yang pada awalnya memperjuangkan perlakuan manusiawi kepada orang-orang yang terkena gangguan jiwa dan sedang di tampung di rumah sakit. Kemudian disiplin ilmu ini melakukan gerakan antisipasi terhadap gangguan mental kepada masyarakat. Sebab mereka berangggapan bahwa gangguan mental dapat dicegah jika mampu dideteksi sejak dini.
4.      Dampak dari gerakan testing psikologis yang semakin mengembangkan sayapnya dalam membuat instrumen-instrumen berupa tes-tes kepribadian untuk menyeleksi karyawan di berbagai perusahaan.
5.      Subsidi dari pemerintah terhadap federal yang memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan untuk mengangkat beberapa konselor untuk menangani bimbingan karier, pendidikan karier, penanggulangan kenakalan remaja, antisipasi terhadap penggunaan obat bius, dan lain-lain
6.      Pengaruh dari penyakit terapi nondirektif (client cetered therapy), yang dikembangkan oleh Carl Rogers, dengan menggantikan pendekatan otoriter serta paternalistic dengan pendekatan pada potensi personal kliennya.(Jareperpus,2011).

2.9    Perkembangan Bimbingan Konseling Di Indonesia
a.       Sejarah Lahirnya Bimbingan Konseling di Indonesia
Di Indonesia sendiri, praktek  Bimbingan Konseling sebenarnya sudah lama diperankan, seperti berdirinya organisasi pemuda Budi Utomo pada tahun 1908, himgga pada periode selanjutnya berdirilah pergurua  Taman Siswa pada tahun 1922 yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara yang menanamkan nilai-nilai Nasionalisme di kalangan para siswanya.
Prinsip didaktik yang dipegang oleh Perguruan Nasional Taman Siswa ini antara lain: kemerdekaan belajar, bekerja dan menggunakan pendekatan konvergensi. Dari pola pendidikan Taman Siswa tersebut telah nampak perhatian dan penghargaan terhadap potensi seseorang dan kemerdekaan untuk mengembangkan potensi. Hal ini merupakan benih dari gerakan bimbingan konseling. .(wieke octora olivia,2012).
Dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan didiriknnya beberapa kementrian pada waktu itu (ada Kantor Penempatan Kerja) yang salah satu kegiatannya dilakukan di Kantor Penempatan Tenaga Kerja yang maksudnya untuk menempatkan orang-orang agar dapat bekerja sesuai dengan kemampuannya dan ini menyerupai Vocational  Bureau yang didirikan oleh Frank Parsons di Boston. Sekarang ini kantor Penempatan Tenaga Kerja ini tumbuh menjadi Departemen Tenaga Kerja.
Dalam perkembangannya, bimbingan dan konseling di Indonesia memiliki alur yang sama seperti halnya perkembangannya di Amerika, yaitu bermula dari bimbingan pekerjaan (Vocational Guidance) lalu merambah kepada bimbingan pendidikan (Education Guidance).
b.      Perkembangan Bimbingan Konseling dalam system Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, Pelayanan Konseling dalam system pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang.(Sarjanaku 2011).
Dengan diadakannya konferensi FKIP seluruh Indonesia yang berlangsung di Malang sejak tanggal 20-24 Agustus 1960, telah diputuskan bahwa Bimbingan dan Konseling dimasukkan dalam kurikulum FKIP. Hal tersebut menunjukkan adanya langkah yang lebih maju, yaitu Bimbingan dan Konseling sebagai suatu ilmu dikupas secara ilmiah.  Dengan adanya instruksi dari pihak pemerintah (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan) untuk melaksakan Bimbingan dan Konseling di sekolah-sekolah, telah membuat bimbingan dan konseling semakin maju di lingkungan sekolah (Bimo Walgito, 2010:17).
Beberpapa tahun setelah itu, didirikanlah SMA gaya baru pada tahun 1962. Pada jenjeng ini para siswa mulai diarahkan secara mandiri dengan bimbingan para guru untuk menentukan kejuruan sesuai da bidang yang ia minati dan ia bidangi. Dimulai dari sini Bimbingan Konseling membantu penjurusan di SMA atas beberapa bidang jurusan dengan ketegasan sebagai berikut:
1.    Di kelas I itu para pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan minatnya dengan jalan menjelajahi segala jenis mata pelajaran di sekolah dengan bantuan pembimbing, para guru dan orang tuanya.
2.    Di kelas II para siswa disalurkan ke kelompok khusus; budaya, pasti, pengetahuan alam.
3.    Untuk menunjuk hal-hal tersebut di atas pengisian kartu pribadi siswa harus dilakukan dengan seteliti-telitinya. Sejak saat itu guru-guru ditatar menjadi pembimbing yang baik.
Setelah dirintis dalam dekade 60-an, bimbingan dicoba penataannya dalam dekade 70-an. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) membawa harapan baru pada pelaksanaan bimbingan di sekolah karena staf bimbingan memegang peranan penting dalam sistem sekolah pembangunan. Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975 yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah. Pada tahun 1975 berdiri ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang. IPBI ini memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.
Setelah melalui penataan, dalam dekade 80-an, bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk mewujudkan layanan bimbingan yang profesional. Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini adalah penyempurnaan kurikulum dari Kurikulum 1975 ke Kurikulum 1984. Dalam kurikulum 1984, telah dimasukkan bimbingan karier di dalmnya. Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya pada masa yang akan datang.
Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam Pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya, pada tahun 2001 terjadi perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Pemunculan nama ini dilandasi terutama oleh pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan publiK (jareperpus, 2011).



















BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Bimbingan dan konseling memiliki andil yang besar dalam lingkungan pendidikan.  Hal ini dikarenakan bimbingan dan konseling dapat membantu peserta didik dalam pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap perkembangannya. Dengan demikian bimbingan dan konseling tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai pelayanan yang diberikan kepada peserta didik yang bermasalah, melainkan bimbingan dan koseling berkontibusi dalam perkembangan peserta didik kearah yang lebih baik lagi.
3.2    Saran
Dalam praktek pendidikan hendaknya lebih mementingkan bimbingan dan konseling untuk kedepannya. Hal ini akan memberikan hasil positif untuk mengarahkan peserta didik menjadi lebih baik, sehingga bisa meminimalisir kemungkinan-kemungkinan kenakalan peserta didik akan terjadi lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Kartadinata, Sunaryo. (2011). Menguak Tabir Bimbingan dan Konseling Sebagai Upaya Pedagogis. Bandung: UPI Press
Sukardi, Dewa Ketut Drs. MBA. MM. dan Desak P.E. Nila Kusmwati, S.Si, M.Si. (2008). Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Syamsu, Yusuf Dr., L.N. dan Dr. A. Juntika Nurihsan. (2009). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda
Tohirin, Drs. M. Pd. (2007). Bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada







Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

my life is my advanture

my life is my advanture

" Quote of the Day"

Sembahlah Dia, seolah-olah engkau melihat-Nya.
Meskipun engkau tak melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu

Pages - Menu

Blogger templates