karena berbagi tak pernah rugi

Sabtu, 21 Februari 2015

MENJAGA VISI & TRADISI PESANTREN

KILAS BUKU “MENJAGA VISI & TRADISI PESANTREN”
Ahmad Assastra
22 Sep. 13

Pada bagian mukodimah penulis menyebutkan bahwa alasan penulisan buku ini adalah berangkat dari keprihatinan penulis dengan kondisi bangsa yang semakin kehilangan harga diri mereka di mata bangsa lain. Dalam hal ini penlis memberikan contoh adanya kasus penganiayaan tenaga kerja Indonesia di luar negri, hal ini menurut panulis merupakan indikator hilangnya kemandirian dari bangsa ini.

Saat ini pemimpi bangsa ini tidak lagi mampu menjadi teladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Mereka telah mengalami disorientasi dalam kepemimpinannya artinya yang seharusnya melayani dan mensejahterakan rakyat justru malah memikirkan diri sendiri dan keluarga ,dan memiliki pola hidup yang bermewah-mewahan.

Untuk itulah buku berjudul “menjaga visi & tradisi pesantren” ini hadir sebagai upaya mengenalkan nilai-nilai kearifan yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren yang tentunya akan sangat berguna bagi kemajuan masyarakat dan bangsa ini.


Revitalisasi Pancajiwa Pondok
Ada tiga alasan mengapa nilai-nilai panca jiwa pondok harus dikukuhkan ulang { revitalisasi };
1.       Karena nilai-nilai pancajiwa pondok merupakan konsensus (hasil kesepakatan) moral lembaga pesantren
2.       nilai-nilai pancajiwa pondok merupakan basis nilai dan ruh pesantren
3.       kurangnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai pancajiwa pondok

 Revitalisasi
Setidaknya ada tujuh tahapan strategis sebagai upaya penegejawantahan nilai-nilai pancajiwa pondok agar menjadi budaya organisasi dalam bentuk perilaku keseharian di pesantren. Ketujuh langkah tersebut adalah;
1.         redifinisi,  artinya perlu adanya pendefinisian ulang nilai-nilai pancajiwa pondok agar lebih dipahami dan dimengerti, karena bisa jadi nilai-nilai pancajiwa pondok tidak diamalkan oleh gru maupun santri disebabkan oleh kurangnya pemahan nilai-nilai pancajiwa pondok itu sendiri.
2.         Rekonsepsi, sebuah definisi biasanya masih bersifat umum dan cenderung dilihat dari segi bahasa. Agar nilai-nilai pancajiwa pondok mampu diaplikasikan, perlu adanya langkah agar definisi umum itu lebih terukur, terindra dan aplikatif melalui contoh-contoh konkret pelaskanaan dalam kehidupan sehari-hari,langkah-langkah inilah yang disebut sebagai konsepsi.
3.         Aktualisasi, ini adalah proses inti dari revitalisasi. Pada proses inilah setiap eleman dari pesntren wajib ikut andil mulai dari pimpinan , guru-guru, para santri maupn karyawa yang ada dilingkunga pesantren.
4.         Planning and programming, perencanaan dan program pesantren harus tertulis dengan gamblang dan bisa diakses oleh santri
5.         Reward and punishment, penghargaan dibuat agar siswa dan guru mau melaksanakan program-program yang ada, sedangkan sangsi dibuat agar siswa dan guru tidak melanggar aturan yang telah dibuat.
6.         Evaluasi, penting untuk mengadakan evaluasi secara berkala agar mengetahui seberapa berjalankankah program yang telah dibuat.
7.         Bangn sistem kendali, artinya dibutuhkan pengawasan dari guru maupun orang tua bahkan diri siwa sendiri untuk melaksanakan program yang ada.

Menumbuhkan keikhlasan
Menjadi guru yang ikhlas
                Keikhlasan adalah persoala hati yang tidak diketahu oleh orang yang bersangkutan dan tuhannya. bekerja penuh ikhlas tidak pernah mendasarkan kesungguhannya karena jabatan, materi, pujian atau faktor lain. Sebab nilai keikhlasan adalah transaksi manusia dengan penciptanya bukan dengan sesama manusia.
                Seorang guru yang ikhlas akan secara sungguh-sungguh mengajar dan membimbing siswanya agar menjadi anak yang berprestasi dan berguna bagi orang lain. Guru yang ikhlas akan melaksanakan tugas tanpa beban , berdedikasi tinggi, dan selalu memberikan energi positif bagi orang di sekitarnya.
Menjadi santri yang ikhlas
                Santri yang ikhlas dalam belajar adalah santri yang sungguh-sungguh memaksimalkan potensi yang diberikan tuhan kepada dirinya, bukan belajar karena ingin dapat nilai ataupun karena ingin naik kelas. Implikasi dari kesungghannya adalah hasil yang baik.
Indikator keikhlasan
                Setidaknya ada empat indikator keiklasan yaitu;
1.       Kapasitas besar, artinya orag yang ikhlas akan memiliki sikap lapang dada dan hatinya jernih
2.       Kejernihan pandangan,  orang ikhlas akan melihat masalah secara proporsional
3.       Keberuntungan besar, dimanapun orang ikhlas berada ia akan selalu mengambil sisi positif bahkan dalam keadaaan terburuk sekalipun
4.       Banyak memberi manfaat,
5.       Menjauhi sifat riya’ dan tasmi’

Sederhana dalam bersikap
Makna kesederhanaan
                Sederhana bukan berarti miskin, islam tidak melarang umatnya untuk kaya bahkan menganjurkan untuk menjadi orang kaya. Karena kunci kesederhanaan adalah sukses tapi mulia. Sederhana bukan berarti miskin melainkan kaya, sederhana bukan berarti melainkan cerdas, sederhana bukan kehinaan diri melainkan kemuliaan diri. lawan dari kesederhanaan adalah sikap sombong, tamak, kikir, dan boros.

                Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. sementara ujub adalah memandang diri sendiri dengan pandangan yang bagus. Tamak  terutama terhadap dunia sangat dilarang oleh agama. Adapun tamak terhadap ilmu dan kebaikan justru dipebolehkan dan sangat terpuji. Adapun boros berarti menghambur-hamburkan harta secara sia-sia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

my life is my advanture

my life is my advanture

" Quote of the Day"

Sembahlah Dia, seolah-olah engkau melihat-Nya.
Meskipun engkau tak melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu

Pages - Menu

Blogger templates