karena berbagi tak pernah rugi

Selasa, 28 April 2015

Catatan dari Novel A History of The World in 10,5 Chapter


            Novel ini merupakan novel paling “bejat” yang pernah saya baca, setidaknya saya pernah membaca beberapa novel lain sebelumnya, dan berita bagusnya bahkan saya membaca novel ini sampai akhir, bahkan sampai catatan dari penulisnya untuk memastikan betapa “bejat” novel yang saya baca ini.

            Sebelum kita bergerak terlalu jauh, saya akan mengatakan bahwa antara “bejat” dan “tidak bejat” adalah hal yang rumit dan membingungkan. Orang “bejat” mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya “bejat”. Dan orang yang “tidak bejat” yang mengatakan bahwa orang yang “bejat” itu “bejat”, sebenarnya di dalam dirinya juga ada sebuah “kebejatan” yang tidak disadari. Ini sama membingungkannya ketika Nuh menentukan yang “Bersih” dan “Tidak Bersih”.
            Beberapa pekan sebelum saya membaca novel ini saya pernah membaca novel lain berjudul La Paligo, tapi saya tidak pernah menyelesaikannya, bukan karena jelek saya rasa, tetapi yang saya takutkan adalah efek samping yang saya dapatkan setelah saya membacanya. La Paligo adalah novel sejenis Ramayana, Mahabarata dan sejenisnya yang menceritakan dunia para dewa dan tetek bengeknya.
            Kalian tahu apa mungkin efek samping yang akan saya dapatkan setelah membaca novel tersebut?
            Secara ilmiah memang tidak bisa dibuktikan bagaimana kehidupan saya ditentukan dari sebuah buku, paling tidak mungkin beberapa buku pendukung, namun dalam hal ini novel tersebut tentu akan berpengaruh besar bagi saya terutama tentang pandangan dan pemahaman saya tentang kehidupan ditambah lagi tentang para dewa. Kau tahu kenapa? Hal ini karena saya lahir dari budaya jawa yang tidak jauh dari dunia pewayangan, sebagian dari kami mungkin seorang muslim, namun pada akhirnya kami masih percaya dan tertarik kepada dunia nonnalar, dan bukankah masalah tentang itu memang sebagian hal-hal tersebut mengharuskan kita mengimani tanpa harus bertanya kenapa begini dan kenapa begitu.
            Baiklah, pada akhirnya kita seharusnya membahas novel karya Julian Barnes yang “bejat” ini. Alasan kenapa saya terus membaca sebuah novel yang dari awal saya anggap bejat adalah saya akan mencari kesalahan tidak logis dari sebuah sangkaan yang menidak logiskan sebuah sejarah yang telah dituliskan Tuhan dalam kitab-kitab suci-Nya yang telah disampaikan melalui para Nabi sucinya.
            Sesuai dengan judulnya, Sejarah Dunia dalam 10,5 Bab, buku ini terdiri dari 10 lebih sedikit bab, keganjilan dimulai dari sini. Kenapa harus 10 lebih setengah, kenapa tidak 11, bukankah sedikit bisa juga dianggap bab,-sungguh ganjil. Namun disini kita tidak bisa menyalahkan penulisnya sebab ini bagian dari keakuan dari penulis sendiri.

…………………………………………………………………………………………

            Bab pertama dalam novel ini berjudul Peumpang Gelap. Dibagian awal bab kita akan mendapat sebuah kesaksian sejarah yang pada akhirnya itu berasal dari seekor ulat.  Ulat tersebut terlibat langsung dengan kisah bahtera Nuh, tentu kalian semua pernah membacanya di kitab Tuhan, atau paling tidak pernah mendengar kisahnya lewat pemuka agama kalian.
            Bagi yang pernah menonton film Noah tentu dapat membayangkan bagaimana penggambaran sejarah Bapak kedua kita itu, meski tidak sepenuhnya benar dan sesuai dengan firman Tuhan dalam kitab-kitab-Nya pastinya. Namun dalam novel ini kita akan dibuat bingung, bagaimana tidak. Semua pasti tahu bahwa bahtera Nuh tentu hanya ada satu. Dalam novel ini justru bahtera Nuh sebenarnya adalah armada kecil yang terdiri dari delapan kapal besar; kapal layar Nuh yang diikuti kapal perbekalan, kemudian empat kapal kecil yang dinahkodai anak-anak Nuh, setelah kapal Nuh adalah kapal “Rumah Sakit” dan kapal terakhir adalah kapal yang tidak lebih baik dari kapal sebelumnya yang tiap malam menyebarkan bau wewangian aneh.
Tidak sampai disitu, penulis bahkan mengambarkan Nuh sebagai seorang bajingan histeris yang kecandun minuman keras. Bagaimana dia memilih antara yang “Bersih” untuk menaiki bahteranya dan yang “Tidak Bersih” untuk disapu ombak besar, juga menjadi perhatian serius dari penulis.
Menurutnya pemilihan bagi penumpang bahtera Nuh sungguh tidak masuk akal, bagaimana mungkin kita memilih sepasang dari setiap hewan dan meninggalkan pasangan yang lain, mungkin mula-mula Nuh akan menjalankan seleksi ketat katanya, namun ketika batas peringatan ombak besar semakin dekat seleksi tak memperhatikan lagi kualitas setiap hewan, hanya berdasar sudah ada atau belum, lagi pula bagaimana dengan hewan yang berjalan lambat, bagaimana mungkin ia akan mencapai bahtera sama cepat dengan sang elang, atau mungkin beberapa hewan yang tidur lama pada musim tertentu, tentu tak tahu bagaimana jadwal keberangkatan bahtera Nuh, atau mungkin beberapa hewan yang justru dimakan predatornya sebelum sampai di bahtera.
Mungkin bagi kita pertanyaan semacam itu ada benarnya secara logis, tapi menimbulkan ktidaklogisan lain sebenarnya, kalaupun Tuhan akan menceritakan secara detail tentang peristiwa bahtera, hewan apa saja yang naik, bagaimana setiap mereka sampai bahtera tepat waktu, bagaimana Nuh memberi makan setiap hewan di bahtera, tentu akan membutuhkan kertas yang banyak jika ditulis oleh para asisten (sahabat) nabi setelah Nuh yang mendapat kisah ini.
Namun penggambaran tentang Nuh yang pemabuk didasarkan penulis pada kebun anggur yang ditanam oleh Nuh didekat tempat ia berlabuh setelah selamat dari Banjir besar. Oia tentu kita tidak lupa dengan burung yang telaah memberi tanda bagi Nuh dan penumpang bahtera bahwa banjir talah usai. Sebenarnya, menurut penulis, pada waktu itu Nuh mengutus gagak dan merpati untuk memeriksa apakah ada daratan terdekat. Versi yang kita terima adalah bahwa gagak memiliki peran yang sangat kecil karena hanya berputar kesana-kemari, berputar-putar tanpa jelas, karena hal itulah yang memang dilakukan hingga hari ini, dan merpatilah yang telah membawa daun zaitun ke bahtera, padahal sebenarnya  gagaklah yang telah menemukan pohon caitun dan membawa daunnya, sedangkan merpati justru memakan bangkai. Sungguh sejarah yang telah diputar balikkan menurut penulis.
Kita tentu tidak dapat menemukan bukti jelas, apakah gagak atau merpati yang berjasa dalam kasus ini, karena lagi-lagi kitab tidak secara rinci mencatatnya dan kita tahu juga bagaimana logisnya hal tersebut. Pada akhirnya kita hanya mengamati perilaku hewan yang menurut kita tidak memiliki pikiran (dalam hal ini tentu penulis novel ini tidak akan pernah setuju bahwa hewan tidak memiliki pikiran, sebab kesaksian bahtera Nuh sendiri disampaikan oleh seekor ulat). Gagak adalah pemakan bangkai dan sering berputar-putar saat terbang, sedangkan merpati tentu kita tahu sudah lama dimanfaatkan untuk mengirim surat di masa yang lalu. Yang kita tahu dalam kitab hanya dikatakan seekor burung yang telah memberi berita, tidak dijelaskan spesies apa, dan bagaimana. Samapi di sini, apakah kalian dapat melihat sebenarnya saya yang “bejat” atau penulis novel ini yang bejat.

………………………………………………………………………………………….

Bab kedua dari novel ini berarti pengunjung. Pada bagian ini ada seorang Franklin Hughes, pengisi acara tv dan juga seorang penulis yang cukup terkenal pada masanya, bidang pengetahuannya tidak ada yang tahu, sebab ia bebas menjelajah sejarah di suatu waktu, dan arkeolog di waktu yang lain.
Suatu ketika ia memberi ceramah atau seminar di sebuah kapal pesiar yang ditumpangi orang-orang yang haus akan sejarah masa silam, dalam hal ini mereka sedang menuju ke daerah-daerah di sekitar Yunani yang menyimpan sejarah luar biasa di masa lampau.
Di bagian awal perjalanan itu, mereka mengarungi Laut Adriatik, mereka memperoleh jamuan dan juga kuliah pembukaan yang disampaikan Franklin secara santai. Kapal itu berlabuh dibeberapa tempat, Aegea, Cyclades, Mykonos, Paros, dan Rhodes. Mereka akan memenuhi perbekalan untuk melanjutkan pelayaran seperti bahan bakar, sayur-mayur, daging, dan tak ketinggalan minuman anggur. Dan juga menaikkan penumpang yang tidak kentara hingga hari berikutnya.
Hingga kemudian mereka sampai di Kreta, saat itu Frankin memberikan kuliah tentang peradaban Knossos dan Minoa. Ketika pertengahan kuliah, tiba-tiba masuklah beberapa orang berkebangsaan Arab, yang tentu belum pernah ereka lihat sebelumnya di kuliah Franklin, dan tentu mereka ketinggalan tentang peradaban Knossos dan Minoa.
Para pengunjung itu, terlihat ramah meski ada beberapa yang memegang senjata, si pimpinan yang tidak membawa senjata mengambil peran Franklin saat itu bahwa suasana tetap aman terkendali, ia juga menjelaskan bahwa mungkin mereka akan keluar secepat mereka masuk. Suasana tersebut tentu membuat ruangan perkuliahan Franklin dan dia sendiri diam sediamnya. Si pemimpin keluar ruangan namun pintu di jaga dua orang yang memegang senjata, keheningan selama setangah jam mengahantui ruangan.
Franklin kembali memulai kuliah yang saat ini terasa ganjil, dan sesekali menatap ke arah penjaga di depan pintu. Tak lama kemudian pemimpin Arab itu masuk ruangan lagi, ia menjelaskan bahwa mungkin ada sedikit gangguan perjalanan,setiap orang akan dikelompokkan berdasarkan kewarganegaraan mereka. Sehingga setiap orang harus menunjukkan kewarganegaraanya dengan menunjukkan paspor masing-masing, ada seorang yang tidak mampu menunjukkan kewarganegaraannya karena tidak memiliki paspor, maka ia dimasukkan ke kelompok Amerika.
Dalam ruangan yang cukup luas itu, mereka di kelompokkan. Kemudian Franklin dipanggil untuk menghadap ke pimpinan Arab karena dianggap mewakili mereka semua. Ternyata kapal tersebut sedang dibajak oleh para perompak yang meminta tiga temannya dilepaskan oleh pemerintah. Dan sampai saat itu belum ada tanggapan serius dari pemerintah.
Setelah beberapa kali Franklin dipanggil untuk menghadap dan belum ada tanggapan serius dari pemerintah maka dengan terpaksa, perompak yang cukup murah hati itu mengatakan bahwa setiap jam akan ada sepasang yang dibunuh dan dibuang laut untuk dilihat oleh kapal pemerintah yang telah mengikuti mereka. Ya sepasang, dalam hal ini penulis menghubungkan dengan kisah bahtera Nuh, lalu bagaimana mereka akan memilih yang “bersih” dan yang “tidak bersih”. Mereka akan diurutkan berdasarkan keterlibatan Negara kebangsaan mereka dalam kasus Timur Tengah. Dimulai dari Amerika, Inggris, Perancis, dan seterusnya. Oleh sebab itu, maka Franklin harus menjelaskan di bawah pengawasan penjaga duduk perkara yang sedang mereka alami. Dengan gaya pengisi seminar biasa dan dengan argument yang menurutnya tidak akan menimbulkan kekacauan dalam kapal maka Franklin menjelaskan apa yang sedang mereka alami.
Pada akhirnya korban tak bisa dihindari, setelah ada delapan korban pemerintah berhasil menyelamatkan kapal dari para pengunjung tak diundang tersebut.
Dalam bab ini, selain keterkaitan antara perompakan di kapal dengan kisah bahtera Nuh dalam hal memilih antara yang “bersih” dan yang “tidak bersih”. Tidak banyak hal yang dapat diperbincangkan lebih lanjut.

………………………………………………………………………………………….

            Bab ketiga berjudul Perang Agama. Bab inilah penulis mengungkap kasus yang cukup ganjil yang terjadi di sebuah pedesaan Prancis. Kasus ini ditulis sekitar paruh pertama abad ke-16. Dari bab ini saya sedikit mengerti bagaimana proses persidangan, terutama beberapa istilah pesidangan dalam bahasa prancis. Ada petition des habitans, plaidoyer des habitans, plaidoyer des insectes, replique des habitans, replique des insectes.
            Pertama-tama kasus itu dibuka dengan petition des habitans (petisi dari para penduduk). Yang menyatakan bahwa pada hari ke-12 bulan agustus 1520, para penduduk meminta mahkamah agar mengadili para jahanam yang telah menimpakan azab dan mara bahaya dan juga telah mengganggu rumah Tuhan. Smapai di sini tidak dijelaskan duduk perkara dan siapa dalang yang dilaporkan ke mahkamah tersebut.
            Selanjutnya plaidoyer des habitans (pidato pembelaan penduduk). Dalam bagian ini ada bagian bertele-tele khas para pengacara yang menjelaskan duduk perkara kenapa para penduduk membawa kasus ini ke pengadilan. Disinilah kenapa pengadilan ini disebut pengadilan yang ganjil. Sebab yang dilaporkan adalah para ulat kayu yang telah membuat Uskup gereja mereka linglung karena jatuh dari singgasananya yang telah dimakan ulat kayu. Tidak hanya itu setelah diperiksa ternyata atap gereja juga tak luput dari ulat kayu sialan tersebut.
Bagian selanjutnya lebih mengejutkan, ternyata para ulat tersbut meiliki pengacara dan entah bagaimana mereka harus membayarnya. Karena bagian selanjutnya adalah plaidoyer des insectes (pidato pembelaan serangga). Pengacara tersebut menyampaikan beberapa persoalan, pertama, bahwa mahkamah tidak berwenang untuk mengadili para tergugat, dalam hal ini para serangga (entah apakah n]benar ulat kayu termasuk serangga) dan bahwa surat pemanggilan juga tidak sah, karena tergugat tidak memiliki akal dan kehendak. Kedua, kalaupun surat pemanggilan sah, tidaklah beralasan dan tidak sah menyidangkan kasus jika tertuduh tidak hadir (in absentia).
Selanjutnya pengacara para serangga mengemukakan dua argumen tambahan, pertama, kalaupun surat pengadilan sah dan benar, apakah ada bukti bahwa surat tersebut diterima oleh para serangga? Kedua, ada asas bahwa tergugat mungkin akan mengalami bahaya ditengah perjalanan menuju ke persidangan. Ketiga, surat tersebut tidak dialamatkan dengan benar, karena surat ditujukan bagi serangga di gereja Saint-Michel di desa Mamirolle. Apakah seluruh gereja yang ada di gereja itu? Karena ada beberapa serangga yang tidak mengganggu di sana. Keempat, bukankah serangga tersebut memakan kayu yang memang makanannya, bukankah memang dia tidak bisa membedakan kayu apa yang sedang mereka makan. Kelima, mahkamah tidak berhak menghukum pengucilan terhadap jiwa yang tidak kekal. Oleh karena itu pengacara dari serangga meminta agar kasus ini ditolak dan dibatalkan.
Selanjutnya replique des habitans (jawaban penuntut atas pembelaan terdakwa). Pertama, pengacara penduduk mengatakan bahwa pengadil memiliki wewenang untuk mengadili binatang. Bukankah Tuhan telah mengusir lintah darat dari Yerusalem, dan bukankah jelas bahwa binatang diciptakan untuk tunduk kepada manusia. Kedua, bahwa tidak ada yang membahayakan serangga untuk hadir kepersidangan kalaupun penduduk membahayakan pastilah mereka telah membakar atap agar apar serangga binasa. Ketiga, bahwa tidak mungkin Ulat kayu ikut dalam bahtera Nuh karena akan menggerogoti kapal, oleh sebab itu serangga tersebut mungkin makhluk yang tidak alami dan tidak sempurna, bahkan mungkin telah berada dalam pengaruh Iblis sehingga merusak rumah Tuhan. Dan keempat, mahkamah berhak melakukan pengucilan terhadap dzat yang tidak kekal bukankah, Yesus Kristus Sang Anak Tuhan bersabda bahwa pohon yang buahnya tidak bagus harus ditebang dan dibakar.
Selanjutnya pengacara serangga melakukan pembelaan lagi terhadap tuduhan dari pengacara penduduk. Pertama, bahwa tergugat seharusnya adalah generasi pertama dari serangga yang mulai melakukan penggerogotan singgasana Uskup dan atap gereja. Kedua, bahwa ulat kayu tidak secara khusus dijelaskan dalam kitab Tuhan tidak ikut dalam bahtera Nuh, jadi kita tidak dapat menyimpulkan bahwa serangga tersebut tidak naik bahtera. Jika serangga itu benar tidak naik behtera, bukankah banjir besar itu untuk membersihkan dunia dan melahirkan dunia baru, dan manusia berhak atas seluruh binatang, tapi apakah dijelaskan manusia juga berkuasa atas hewan yang tidak naik bahtera. ketiga, bukankah mungkin serangga itu dikirim Tuhan untuk mengingatkan kesalahan kita yang mungkin tidak kita sadari, sebagaimana umat dahulu diazab melalui hewan yang dikirim Tuhan.  Keempat, pengacara memohon agar kasus tersebut dibatalkan, dan serangga dinyatakan tidak bersalah tanpa syarat, dan mereka harus pindah ke lahan lain agar hidup damai.
Selanjutnya ada kesimpulan dari jaksa umum, yang mengatakan bahwa apa yang telah disampaikan oleh pembela dari kedua belah pihak telah disampaikan secara mantap dan penuh kesungguhan. Tanggapan atas generasi ulat kayu yang dipanggil kenapa tidak generasi pertama saja, adalah firman Tuhan dalam Kitab Keluaran bahwasanya kesalahan bapak dibalaskan tuhan kepada anak cucunya hingga keturunan ketiga dan keempat. Jadi mahkamah berhak atas hal ini. Namun jaksa juga tidak bisa menerima pendapat bahwa ulat kayu telah dirasuki Iblis sebab ulat kayu masih hidup dalam kenormalan mereka sebagai seekor serangga.
Para jaksa setuju bahwa ulat kayu tidak naik bahtera, namun untuk mengklasifikasikan apakah mereka makhluk alami, atau buatan Iblis mereka perlu teolog terkemuka untuk menjawabnya. Dan juga tidak ada alasan pula kenapa Tuhan mengirim serangga ke sana, mungkin para penduduk kurang sedekah atau apa.
Bagian terakhir dari bab ini adalah keputusan para hakim yang memutuskan bahwa ulat kayu harus pindah ke lahan yang telah disediakan penduduk, para penduduk harus menahan diri dari perbuatan yang menyimpang dalam Rumah Tuhan.
Pengadilan terhadap ulat kayu adalah pengadilan yang cukup aneh, namun dengan keputusan yang telah ditetapkan setidaknya tidak merugikan pihak manapun. Meskipun sebenarnya saya penasaran dengan Uskup yang linglung kenapa hingga akhir persidangan dia tidak hadir, mungkinkah dia masih linglung atau sedang meratap ke atap gereja, membayangkan berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk memperbaiki semuanya, itu kedengaran lucu.

………………………………………………………………………………………….

            Pada bab tiga, dalam buku ini adalah kisah seorang wanita yang mengalami masalah dengan suaminya. Kehidupan yang penuh masalah itu membuat ia minggat dan berpetualang untukmenemukan “dunia baru” bersama kucing kesayangannya. Ia pergi menaiki perahu suaminya secara diam-diam.
            Selama perjalanan gelapnya, ia mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk dimana ia melawan ia yang lain. Dalam mimpinya ia bergejolak dengan masalah yang sebenarnya ingin ia hindari selama ini. Pada akhirnya ia menyadari bahwa semua masalah.

………………………………………………………………………………………….

Pada bab-bab selanjutnya berjudul; kapal karam, gunung, tiga cerita sederhana, ke hulu, parentis, proyek ararat, mimpi. Oia parentis adalah setengah bab yang dimaksud dalam novel ini.
Kapal karam, merupakan bab yang menceritakan sebuah tragedi kemanusiaan tentang betapa kita sering mementingkan diri sendiri. Dalam kisah ini, sebuah kapal yang sedang pelayaran tiba-tiba terdampar di laut dangkal, namun masih jauh dari daratan. Kapten kapal, kemudian mengumpulkan seluruh penumpang dan para ABK untuk pembagian siapa yang akan naik kapal skoci dan siapa yang akan naik rakit.
Setelah pembagian selesai, ternyata setiap orang mementingkan kepentingan dan keselamatan masing-masing sehingga mereka berebut naik skoci, hingga akhirnya ratusan penumpang yang kurang beruntung harus berdesakkan menaiki rakit. Tidak sampai di situ, ternyata perjuangan para manusia rakit yang harus terkatung-katung di lautan baru saja dimulai. Ketika perbekalan yang dibawa mulai menipis dan para penumpang rakit makin kelaparan, maka pembunuhan antar penumpang tak terelakkan lagi. Hingga akhirnya hanya 15 orang yang selamat dalam perjalanan rakit tersebut.
Bab berikutnya yang berhubungan dalam novel ini adalah bab yang berjudul gunung dan proyek Ararat. Pada bab gunung diceritakan dua orang perempuan yang melakukan perjalanan suci ke puncak Ararat. Salah seorang dari perempuan itu bermaksud mendo’akan ayahnya yang ia rasa cukup jauh dari Tuhan sehingga menurutnya ia perlu meminta ampun kepada-Nya. Sedang perempuan satunya, hanyalah pelayan perempuan pertama.
Perjalanan suci ini melewati sebuah desa Aghuri, desa terakhir dari puncak Ararat. Di desa ini ada sebuah gereja tua dan juga perkebunan anggur warisan Nuh, yang merupakan tanaman pertama setelah adanya banjir besar.
Sedangkan proyek Ararat merupakan perjalanan yang dilakukan oleh seorang mantan astronot yang mendengar panggilan suci untuk menemukan bahtera Nuh ketikasedang menjalani proyek di bulan. Hal inilah yang membuat dia bertekat bulat untuk menjawab panggilan Tuhan.
            Sampai sini saya merasa bahwa tulisan ini bukan lagi catatan (tak pantas disebut kritikan saya rasa) mengenai novel karya Julian Barnes ini. Oleh sebab itu saya rasa untuk mengetahui lebih lanjut kebejatan yang sebenarnya lebih banyak lagi dalam buku ini, dan mungkin kalian akan merasakan bahwa ternyata sejarah yang selama ini palajari akan runtuh atau setidaknya akan tergoyang oleh pertanyaan dan pernyataan penulis novel ini.

            Tanpa mengurangi sedikitpun pendapat saya tentang betapa bejatnya novel ini, ternyata uraian singkat yang saya tulis ini dengan tepat memiliki panjang 10,5 halaman, meskipun bisa juga disebut 11 halaman toh kayaknya lebih pantas disebut 10,5. Mungkin inilah keakuan penulis dalam setiap karyanya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

my life is my advanture

my life is my advanture

" Quote of the Day"

Sembahlah Dia, seolah-olah engkau melihat-Nya.
Meskipun engkau tak melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu

Pages - Menu

Blogger templates