karena berbagi tak pernah rugi

Rabu, 01 April 2015

RESUME BK KELOMPOK 5

TEKNIK-TEKNIK DASAR PEMAHAMAN INDIVIDU

A.       Pengertian Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan.
Dalam Bahasa Latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tidak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Individu bukan berarti manusia sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering digunakan sebagai sebutan “orang-seorang” atau manusia “perorangan”. Individu merupakan kesatuan aspek jasmani dan rohani. Dengan kemampuan rohaninya individu dapat berhubungan dan berfikir serta dengan fikirannya itu mengendalikan dan dan memimpin kesanggupan akal dan kesanggupan budi untuk mengatasi segala masalah dan kenyataan yang dialaminya.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut lagi sebagai individu. Dalam diri individu ada unsur jasmani dan rohaninya, ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Seorang individu adalah perpaduan antara faktor genotip dan fenotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Secara fisik seseorang memiliki kemiripan atau kesamaan ciri dari orang tuanya, kemiripan atau persamaan itu mungkin saja terjadi pada keseluruhan penampilan fisiknya, bisa juga terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu saja.Kita bisa melihat secara fisik bagian tubuh mana dari kita yang memiliki kemiripan dengan orang tua kita. Ada bagian tubuh kita yang mirip ibu atau ayah, begitu pula mengenai sifat atau karakter kita ada yang mirip seperti ayah dan ibu.
B.       Pengertian Pemahaman Individu
Pemahaman individu oleh Aiken (1997, hlm. 454) adalah suatu cara untuk memahami, menilai atau menaksir karakteristik, potensi, dan atau masalah-masalah gangguan yang ada pada individu atau kelompok individu. Cara yang digunakan meliputi observasi, interview, teknik projektif, dan beberapa jenis tes.
C.        Pengumpulan Data
1.         Prinsip Pengumpulan Data
Prinsip-prinsip pengumpulan dan penyimpanan data, yaitu:
a.          Kelengkapan data
b.         Relevansi data
c.          Keakuratan data
d.         Efisiensi penyimpanan data
e.          Efektivitas penggunaan data
2.         Macam-Macam Data
Macam-macam data:
a.         Kecakapan
1)   Kecakapan petensial (potential ability) diperoleh secara heriditer (pembawaan kelahirannya).
a)    Abilitas dasar umum (general inteligence) atau kecerdasan.
b)    Abilitas dasar khusus dalam bidang tertentu (bakat, aptitudes).
2)   Kecakapan aktual (actual ability) yang menunjukan pada aspek kecakapan yang segera dapat didemonstrasikan dan diuji sekarang juga. Misalnya: prestasi belajar, keterampilan, kreativitas dan lain sebagainya.
b.         Kepribadian 
1)             Fisik dan kebebasan
2)             Psikis
3)             Kegiatan : ekstrakurikuler
4)             Keunggulan-keunggulan dalam bidang: akademik. Keagamaan. Olahraga, kesenian, keterampilan, sosial, dll.
5)             Pengalaman istimewa dan prestasi yang telah diraih
6)             Latar belakang
7)             Agama dan moral
8)             Lingkungan masyarakat
3.         Sumber Data
Pemahaman individu siswa dapat dilakukan melalui beberapa suber, yaitu:
a.         Sumber pertama yaitu siswa itu sendiri yang dapat dilakukan melalui wawancara, observasi ataupun teknik pengukuran.
b.         Sumber kedua yaitu orang tua siswa dan keluarga terdekat siswa, guru-guru yang pernah mengajar dan bergaul lama dengan siswa, temannya, dokter pribadi dan sebagainya.
4.         Aspek-Aspek yang Dihimpun dalam Pengumpulan Data
Berbagai hal yang termuat di dalam himpunan data meliputi pokok-pokok data/keterangan tentang berbagai hal seluruh data itu perlu dihimpun dan disusun menurut suatu sistem yang jelas, sehingga pemasukan dan pengeluarannya (untuk dipakai) dapat dilakukan dengan mudah dan tetap terpelihara.Himpunan data pribadi sering disebut cumulative record.
Data yang perlu dikumpulkan, disusun dan dipelihara meliputi data pribadi dan data umum. Data pribadi siswa di sekolah, misalnya meliputi berbagai hal dalam pokok-pokok berikut:
a.          Identitas pribadi
b.         Latar belakang rumah dan keluarga
c.          Kemampuan mental, bakat, dan kondisi kepribadian
d.         Sejarah pendidikan, hasil belajar, nilai-nilai mata pelajajaran
e.          Hasil tes diagnostik
f.          Sejarah kesehatan
g.         Pengalaman ekstrakurikuler dan kegiatan di luar sekolah
h.         Minat dan cita-cita pendidikan dan pekerjaan/jabatan
i.           Prestasi khusus yang pernah diperoleh
j.           Deskripsi menyeluruh hasil belajar siswa setiapa kelas
k.         Sosiometri setiap kelas
l.           Laporan penyelenggaraan diskusi/belajar kelompok
5.         Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengumpulan Data
Beberapa hal perlu mendapatkan perhatian dalam rangka penyelenggaraan himpunan data dan pemanfaatannya secara optimal.
a.         Materi himpunan data yang baik (akurat dan lengkap)
b.        Data tentang individu selalu bertambah, berubah, berkembang, dan dinamis.
c.         Data yang terkumpul disusun dalam format-format yang teratur rapi menurut sistem tertentu.
d.        Data dalam himpunan data itu pada dasarnya bersifat rahasia.
e.         Mengingat bahwa data yang dikumpulkan cukup banyak, harus pula ditambah dan dikurangi sesuai dengan perkembangan
6.         Manajemen dan Penggunaan Data
Dalam era teknologi informasi, manajemen data peseta didik dilakukan secara komputer. Database peserta didik perlu dibangun dan dikembangkan agar perkembangan setiap peserta didik dapat dengan mudah dimonitor. Penggunaan data peserta didik dan lingkungan sekolah yang tertata dan dimenejemen dengan baik untuk kepentingan memonitor kemajuan peserta didik akan menjamin seluruh peserta didik menerima apa yang mereka perlukan untuk keberhasilan sekolah.
D. Teknik Pemahaman
1.         Pemberian Instrumen
Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumentasi bimbingan dan konseling. Antara lain yaitu:
a.     Instrumen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan.
b.    Pemakai instrument (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrument yang akan dipakai
c.     Pemakaian instrumen, misalnya, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang akan mengambil tes itu.
d.    Perlu diingat bahwa tes atau instrument apa pun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secra lebih luas dan dalam.
e.     Ada dan dipergunakannya berbagai instriumen lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
Instrumen bimbingan dan konseling meliputi digunakan dan dikembangkan berbagai instrumen, baik berupa tes maupun nontes.
a.         Instrumen Tes
Tes dipandang sebagai suatu alat yang digunakan dalam proses terapeutik dan memberikan sumbangan dalam membantu klien (siswa) untuk membuat keputusan dan perencanaan sendiri.
Ada tiga fungsi penggunaan tes dalam konseling yaitu: 1) sebagai alat diagnostik,2) menemukan minat dan nilai , dan 3) membuat prediksi tingkah laku.
Dalam memilih tes untuk konseling, beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
1)             Standar tes yang digunakan
2)             Memilih waktu penggunaan tes secara teapt
3)             Memilih topic tes
4)             Partisipasi klien dalam memilih tes
5)             Prosedur pemilihan tes dengan langkah-langkah berikut:
a)    Klien dan konselor menetapkan data apa yang diperlukan untuk membantu memecahkan masalah
b)   Konselor menggambarkan macam-macam teori tes
c)    Konselor memberikan rekomendasi kepada tes tertentu yag dapat memberikan data yang diperlukan
d)   Konselor membiarkan klien untuk memberikan reaksi terhadap pemilihan tes
e)    Mengatur pelaksanaan tes

                   Dalam menggunakan tes untuk proses konseling hendaknya diperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1)        Mengetahui tes secara menyelurh
2)        Penjajagan terhadap alasan klien menginginkan dan pengalaman klien dalam tes-tes yang pernah dialaminya
3)        Perlu pengaturan pertemuan interpretasi tes agar klien siap untuk menerima informasi
4)        Arti skor tes harus dibuat secepatnya dalam diskusi
5)        Kerangka acuan hasil tes hendanya dibuat dengan jelas
6)        Hasil tes harus diberikan kepada klien (dalam bentuk buku skor)
7)        Hasil tes harus selalu terjabarkan
8)        Konselor hendaknya bersikap netral
9)        Konselor hendaknya memberikan interpretasi secara berarti dan jelas
10)    tes harus memberikan prediksi dengan tepat
11)    Dalam tahap interpretasi tasi tes, perlu adanya partisipasi dan evaluasi dari klien
12)    Interpretasi skor yang rendah kepada klien normal hendakn ya dilakukan dengan hati-hati
Cronbach mengatakan tes merupakan prosedur untuk mengungkapkan tingkah laku seseorang dan menggambarkannya dalam bentuk skala angka atau klasifikasi tertentu (Prayitno, et al, 2004:318).Dalam bentuknya yang nyata tes meliputi serangkaian pertanyaan (tertulis atau lisan) atau tugas yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang dites; jawaban atau pengerjaan atas pertanyaan atau tugas itu dijadikan dasar untuk menentukan tingkat pengetahuan, kemampuan, keterampilan, sikap atau kualifikasi orang yang bersangkutan.
Ada bermacam-macam tes, seperti tes intelegensi, tes bakat, tes kepribadian, tes hasil belajar, tes diagnostik. Secara umum kegunaan berbagai tes itu ialah membantu konselor dalam:
1)        Memperoleh dasar-dasar pertimbangan berkenaan dengan berbagai masalah pada individu yang dites, seperti masalah penyesuaian dengan ligkungan, masalah prestasi belajar atau hasil belajar, masalah penempatan dan penyaluran;
2)        Memahami sebab-sebab terjadinya masalah diri individu;
3)        Mengenali individu (misalnya siswa di sekolah) yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan sangat rendah yang memerlukan bantuan khusus;
4)        Memperoleh gambaran tentang kecakapan, kemampuan, atau keterampilan seseorang individu dalam bidang tertentu.
Berbagai hal yang diperoleh konselor dari hasil tes dipergunakan konselor untuk menetapkan jenis layanan yang perlu diberikan kepada individu yang dimaksudkan.

Adapun beberapa instrument tes yaitu sebagai berikut:
1)        Tes Intelegensi (Kecerdasan)
2)        Tes Bakat
3)        Tes prestasi belajar (Achivement Tests)

b.         Instrumen Nontes
Instrumen non-tes meliputi berbagai prosedur, seperti pengamatan, wawancara, catatan anekdot, angket, sosiometri, inventori yang dibakukan. Agar diperoleh hasil yang terandalkan, pengamatan dan wawancara dilakukan dengan mempergunakan pedoman pengamatan atau pedoman wawancara.
Kegunaan hasil pengungkapan melalui instrumen non-tes sejalan dengan kegunaan hasil-hasil tes seperti tersebut. Memang, sebagaimana telah disebut terdahulu, berbagai data yang berhasil diungkapkan melalui berbagai prosedur dan sumber bersifat menunjag, saling melengkapi, atau dipakai untuk mencek kebenaran atau ketepatan suatu kondisi, yang kesemuanya itu dipakai sebagai bahan pertimbangan tentang perlu layanan tertentu bagi individu yang bersangkutan.
Berikut ini beberapa bentuk instrumen nontes yaitu sebagai berikut:
1)        Catatan anekdot
Catatan anekdot, yaitu catatan otentik hasil observasi.
2)        Angket
Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data melalui komunikasi tidak langsung, yaitu melalui tulisan.Beberapa petunjuk untuk menyusun angket:
3)        Daftar cek
4)        Autobiografi (riwayat atau karangan) dan catatan harian
5)        Sosiometri
Sosiometri bertujuan untuk memperoleh informasi tentang hubungan atau interaksi sosial (saling penerimaan atau penolakan) diantara murid dalam suatu kelas, kelompok, kegiatan ekstrakurikuler, organisasi kesiswaan, dll.
6)        Inventori
2.         Teknik Wawancara
Wawancara merupakan teknik untuk mengumpukan informasi melalui komunikasi langsung dengan responden (orang yang minta informasi).

Kelebihan dan kekurangan teknik wawancara adalah sebagai berikut.
a.               Kelebihan wawancara:
1)        Merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi murid secara mendalam
2)        Dapat dilakukan terhadap setiap tingkatan umur
3)        Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi
4)        Digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan teknik lain.
b.                Kelemahan wawancara:
1)     Tidak efisien, yaitu tidak bisa menghemat waktusacara singkat
2)     Sangat tergantung pada kesediaan kedua belah pihak
3)     Menuntut penguasaan bahasa dari pihak pewawancara

Dalam bimbingan dan konseling dikenal beberapa macam wawancara, yaitu:
a.          Wawancara pengumpulan data (informational interview)
b.         Wawancara konseling (counseling interview)
c.          Wawancara disiplin (diciplinary interview)
d.         Wawancara penempatan (placement interview)
3.         Observasi(pengamatan)
Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.         Dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu.
b.         Direncanakan secara sistematis.
c.         Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.
d.        Perlu diperiksa ketelitiannya.
Teknik observasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis:
a.         Observasi sehari-hari (daiily observation)
b.         Observasi sistematis (systematic observation)
c.         Observasi partisipatif (participative observation)
d.        Observasi non-partisipasif (non participative observation)
4.         Studi Kasus
Studi kasus merupakan teknik mempelajari perkembangan seorang murid secara menyeluruh dan mendalam serat mengungkap seluruh aspek pribadi murid yang datanya diperoleh dari bebagai pihak
Dalam melaksanakan studi kasus ini dapat ditempuh langkah-langkah:
a.         Menentukan murid yang bermasalah
b.         Memperoleh data
c.         Menganalisis data
d.        Memberikan layanan bantuan
5.         Konferensi kasus

Konferensi kasus merupakan suatu pertemuan diantara beberapa unsur di sekolah untuk membicarakan seorang atau beberapa murid yang mempunyai masalah. Unsur-unsur yang dapat turut berpartisipasi dalam konferensi kasus dapat terdiri atas, konselor, guru-guru yang mengenal benar murid yang menjadi kasus, kepala sekolah, psikolog, dokter, petugas perpustakan, orang tua siswa atau personel lain yang mengenal dekat dengan murid.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

my life is my advanture

my life is my advanture

" Quote of the Day"

Sembahlah Dia, seolah-olah engkau melihat-Nya.
Meskipun engkau tak melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu

Pages - Menu

Blogger templates